Beranda Hikayat Sepenggal Riwayat Masjid Kali Pasir

Sepenggal Riwayat Masjid Kali Pasir

Veerpont over de Kali Pasir te Batavia in 1910s (KITLV)
Veerpont over de Kali Pasir te Batavia in 1910s (KITLV)

DI TEPI Sungai Cisadane, berdiri sebuah masjid bersejarah yang menjadi saksi bisu perjalanan penyebaran Islam di Tangerang. Masjid itu bernama Masjid Jami’ Kali Pasir. Di balik keheningan bangunan tua ini, tersimpan kisah panjang tentang dakwah, kekuasaan, dan peradaban masyarakat pesisir sungai Cisadane sejak abad ke-17.

Sejarah Masjid Jami’ Kali Pasir dimulai pada tahun 1608. Seorang pengelana bernama Pangeran Kuripan datang dari Kesultanan Cirebon dengan misi menyebarkan agama Islam. Menempuh perjalanan dari Bogor hingga pesisir Tangerang menyusuri sungai Cisadane.

Dalam perjalanannya, Pangeran Kuripan singgah di petilasan Ki Tengger Jati, seorang penyebar agama Islam dari Kerajaan Galuh Kawali, bagian dari kekuasaan Kerajaan Pasundan. Catatan Paririmbon Sunda (1978) menyebut, Ki Tengger Jati sudah ada sejak awal 1600-an.

Ia mendirikan sebuah gubuk untuk singgah. Hingga lokasi ini menjadi sebuah masjid Kali Pasir. Di lokasi inilah, Pangeran Kuripan kemudian membangun sebuah masjid sederhana. Masjid itu menjadi tempat persinggahan para pengelana.

Dan perlahan menjadi pusat dakwah, tempat bermusyawarah, dan sarana ibadah masyarakat pesisir sungai Cisadane atau Cipamungkas. Kini, masjid tersebut dikenal sebagai Masjid Jami’ Kali Pasir, salah satu masjid tertua di Tangerang.

Setelah wafatnya Pangeran Kuripan, kepemimpinan masjid beralih kepada Tumenggung Pamit Wijaya pada tahun 1671. Menurut catatan Paririmbon Sunda (1978), Pamit Wijaya adalah seorang komandan batalyon yang diangkat oleh Bupati Tangerang Aria Wangsakara dan Mangkubumi Banten kala itu.

Di bawah kepemimpinannya, Masjid Jami’ Kali Pasir berkembang pesat. Bangunan masjid diperluas dan diperkuat struktur bangunannya.

Masjid ini menjadikannya pusat persinggahan para musafir dan ibadah umat Muslim. Salah satu ciri khas peninggalannya adalah empat tiang utama. Berbahan kayu jati yang masih kokoh berdiri hingga kini. Memberikan arti secara filosofi tentang simbol kekuatan dan keteguhan iman.

Setelah wafatnya Tumenggung Pamit Wijaya, kepengurusan masjid diteruskan oleh Raden Bagus Uning Wiradilaga pada tahun 1712. Kepemimpinan kemudian berpindah kepada Tumenggung Aria Ramdon pada tahun 1740, yang lebih dikenal dengan gelarnya, Aria Gerendeng II.

Di masa ini, masjid tetap berfungsi sebagai pusat ibadah dan dakwah Islam, sekaligus menjadi penanda penting perkembangan peradaban di kawasan Kali Pasir.

Memasuki akhir abad ke-18, tongkat kepemimpinan beralih kepada Tumenggung Aria Sutadilaga pada tahun 1780. Masa pemerintahannya cukup unik karena bersinggungan langsung dengan intervensi VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie).

Aria Sutadilaga diangkat melalui Koninklijk Besluit (KB), sebuah keputusan resmi yang dikeluarkan oleh Johannes Siberg, Gubernur Jenderal Hindia Belanda, pada 16 Februari 1802. Hal ini menunjukkan peran strategis masjid dan kawasan Kali Pasir pada masa kolonial.

Menurut catatan Paririmbon Ka-Aria-an Parahijang (1830), Aria Sutadilaga wafat pada tahun 1823 dan dimakamkan di kompleks pemakaman dekat masjid. Menariknya, istrinya adalah salah satu putri Kerajaan Banten, yang semakin menegaskan keterkaitan erat antara Tangerang, Banten, dan perkembangan Islam di kawasan ini.

Setelah wafatnya Aria Sutadilaga, kepemimpinan masjid sempat dipegang oleh Raden Aria Idar Dilaga, kemudian dilanjutkan oleh Nyi Djamrut, putri Aria Idar Dilaga, bersama suaminya, Raden Abdullah, hingga tahun 1904.

Kepemimpinan berikutnya dipegang oleh Raden Jasin Juda Negara, putra Nyi Djamrut, kemudian dilanjutkan oleh H. Muhibi, dan akhirnya H. Abdul Kadir Banjar. Pergantian generasi ini menunjukkan warisan spiritual terus dijaga hingga saat ini.

Masjid Jami’ Kali Pasir tidak hanya menjadi pusat ibadah, tetapi juga menyimpan ragam kisah. Ada jua kompleks makam keluarga besar Aria Sutadilaga. Menurut catatan sejarah, Aria Sutadilaga adalah keturunan Penguasa Sumedang Larang yang diberi mandat oleh Kesultanan Banten untuk memimpin wilayah Tangerang.

Kompleks makam ini kini menjadi salah satu penanda penting jejak sejarah dan ketokohan keluarga Aria Sutadilaga. Dan Masjid Jami’ Kali Pasir tak bisa dilepaskan dari peran Sungai Cisadane. Sejak masa lampau, sungai ini menjadi jalur perdagangan, penyebaran agama, dan pertukaran budaya.

Melalui aliran Cisadane, para ulama, saudagar, dan bangsawan dari berbagai daerah datang ke Tangerang bahkan menuju Bogor. Membawa gagasan, ajaran Islam, dan kebudayaan baru. Keberadaan masjid di tepi sungai ini mempertegas posisinya sebagai pusat dakwah sekaligus simpul peradaban Tangerang masa lampau.

Masjid Jami’ Kali Pasir bukan sekadar bangunan tua, melainkan saksi sejarah penyebaran Islam di Tangerang. Dari perjalanan Pangeran Kuripan pada tahun 1608, kepemimpinan para tumenggung, campur tangan VOC, hingga peran keluarga besar Aria Sutadilaga, masjid ini menjadi penanda peradaban Islam di tepian Cisadane.

Kini, Masjid Jami’ Kali Pasir tak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga menjadi warisan cagar budaya dan sejarah yang harus dilestarikan. Masjid ini mengingatkan kita, bahwa peradaban, keimanan, dan kebudayaan saling bertautan dalam satu simpul perjalanan panjang sejarah Tangerang.

 

Arfan Effendi, Penikmat Kisah Masa Lampau

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini