Beranda Daerah Ciputat Darurat Sampah

Ciputat Darurat Sampah

Pemkot Tangsel melakukan perapihan sementara tumpukan sampah dan penyemprotan anti bau (Pemerintah Kota Tangerang Selatan)
Pemkot Tangsel melakukan perapihan sementara tumpukan sampah dan penyemprotan anti bau (Pemerintah Kota Tangerang Selatan)

Oleh: Mohammad Fatih Shaleh
Mahasiswa Manajemen Pendidikan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Ciputat sedang tidak baik-baik saja. Persoalan sampah yang menahun kini berubah menjadi kondisi darurat lingkungan. Tumpukan limbah yang tak tertangani dengan serius bukan hanya mencemari jalanan dan ruang publik, tetapi telah menembus batas paling fundamental: ruang pendidikan.

Di sejumlah titik utama Ciputat, bau busuk dari gunungan sampah kian menyengat, terutama saat matahari terik atau setelah hujan turun. Aroma tersebut tak lagi berhenti di pinggir jalan. Ia merambat, menembus pagar kampus, dan masuk ke ruang-ruang kelas tempat mahasiswa seharusnya belajar dengan nyaman dan sehat.

Kondisi ini menandai kegagalan serius dalam tata kelola sampah di Tangerang Selatan. Ketika ruang belajar ikut tercemar, maka persoalan sampah tak lagi bisa diperlakukan sebagai isu teknis semata, melainkan krisis yang mengancam kualitas hidup dan masa depan pendidikan.

Seorang mahasiswa dari perguruan tinggi di kawasan Ciputat mengungkapkan keresahannya. Menurutnya, pencemaran bau sudah berada pada level yang tidak bisa lagi ditoleransi.

“Masalah ini sudah sangat parah. Bau sampah Ciputat tercium sampai ke dalam area kampus, bahkan masuk ke ruang kelas saat kami sedang belajar,” ujarnya, Selasa (27/01/2026).

Ia menegaskan, situasi ini menunjukkan bahwa kelalaian pengelolaan sampah telah berdampak lintas sektor. Bukan hanya mengganggu estetika kota, tetapi juga kesehatan dan konsentrasi mahasiswa.

“Ini bukan cuma soal jalanan kotor. Dampaknya sudah mengganggu kesehatan dan fokus kami sebagai mahasiswa,” tegasnya.

Jika ruang kelas saja tak lagi steril dari bau busuk, pertanyaannya sederhana namun menohok: sejauh apa negara dan pemerintah daerah hadir melindungi hak dasar warganya atas lingkungan yang layak?

Pemerintah daerah Tangerang Selatan tak bisa terus berlindung di balik rutinitas teknis dan pernyataan normatif. Penambahan armada pengangkut sampah, perbaikan sistem pengelolaan, serta pengawasan yang konsisten adalah langkah minimal yang harus segera dilakukan. Tanpa itu, penumpukan sampah hanya akan terus berulang dan membusuk—secara harfiah maupun kebijakan.

Namun, tanggung jawab ini juga menuntut keterlibatan masyarakat. Disiplin dalam pengelolaan sampah rumah tangga dan kesadaran kolektif menjaga lingkungan harus berjalan seiring dengan ketegasan pemerintah. Kolaborasi menjadi kunci, bukan saling melempar kesalahan.

Ciputat tidak boleh terus dibiarkan tenggelam dalam krisis sampah. Jika bau busuk sudah menembus ruang kelas hari ini, maka yang terancam esok hari bukan hanya kenyamanan belajar, tetapi kualitas generasi yang sedang dipersiapkan di dalamnya.

Profil Penulis

Mohammad Fatih Shaleh adalah mahasiswa aktif Program Studi Manajemen Pendidikan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Ia aktif menulis dan terlibat dalam berbagai organisasi kemahasiswaan serta gerakan sosial di lingkungan Ciputat.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses