Beranda Kalapikir Puasa dan Tanggung Jawab Personal

Puasa dan Tanggung Jawab Personal

Ilustrasi Puasa dan Tanggung Jawab Pribabi. Sumber: www.pexels.com/Sami Abdullah
Ilustrasi Puasa dan Tanggung Jawab Pribabi. Sumber: www.pexels.com/Sami Abdullah

Oleh: Ahmad Nurcholish

“كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلَّا الصَّوْمَ، فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ 

[Semua amal seorang anak Adam (manusia) adalah untuk dirinya kecuali puasa, sebab puasa itu adalah untukKu, dan Akulah yang akan memberinya pahala.”] (Hadits Qudsi).

Mencermati hadits qudsi riwayat Imam Bukhari (No. 1761) dan Muslim (No. 1946) dari Abu Hurairah RA. tersebut, Ibn al-Qayyim al-Jawziyah dalam kitabnya Zad al-Ma’ad fi Huda Khayr al-‘Ibad memberi penjelasan bahwa puasa itu, “…adalah untuk Tuhan seru sekalian Alam, berbeda dengan amal-amal yang lain. Sebab seseorang yang berpuasa tidak melakukan sesuatu apa pun melainkan meninggalkan sahwatnya, makanannya, dan minumannya demi sembahannya (ma’bud, yakni Tuhan).”

Lebih lanjut Ibn al-Qayyim mengatakan: “…Orang itu meninggalkan kesenangan dari kenikmatan dirinya karena lebih mengutamakan cinta Allah dan ridha-Nya. Puasa itu rahasia antara seorang hamba dengan Tuhannya, yang orang lain tidak mampu melongoknya.”

Jadi, salah satu hakikat  ibadah puasa ialah sifatnya yang pribadi atau personal, bahkan rahasia antara seorang manusia dengan Tuhannya. Dan segi kerahasiaan itu merupakan letak dan sumber hikmahnya, yang kerahasiaan itu sendiri terkait erat dengan makna keikhlasan dan ketulusan.

Antara puasa sejati dan puasa yang palsu hanyalah dibedakan oleh, misalnya, seteguk air yang dicuri minum oleh seseorang ketika ia berada sendirian. 

Oleh karenanya, puasa benar-benar merupakan latihan dan ujian kesadaran akan adanya Tuhan yang Mahahadir (omnipresent), dan yang mutlak tidak pernah lengah sedikit pun dalam pengawasanNya terhadap segala perilaku hamba-hambaNya.

Dengan demikian, makna mendalam dari hadis qudsi tersebut adalah, pertama, keikhlasan mutlak. Puasa adalah ibadah rahasia antara kita sebagai hamba dan Sang Khaliq. Seseorang bisa saja mengaku puasa atau berpura-pura puasa padahal tidak, atau sebaliknya. Ibadah ini melatih kita untuk meminimalisir  dari perbuatan riya’ (pamer).

Kedua, “Puasa itu untukKu”: Ini menandaskan bahwa kemuliaan ibadah puasa dan kedekatan seorang hamba dengan Tuhannya. Puasa melatih diri untuk menahan lapar, dahaga, dan hawa nafsu demi menaati perintah Allah.

Ketiga, “Akulah yang akan memberi pahala”.  Allah menisbatkan pahala puasa kepada diri-Nya secara langsung. Ini menggambarkan pahala yang berlipat ganda, tak terbatas, dan istimewa, berbeda dengan ibadah lain yang pahalanya berlipat ganda (misalnya 10 hingga 700 kali lipat).

Ketiga, “Penyucian Jiwa” Puasa adalah sarana utama mencapai ketakwaan, seperti disebutkan dalam Al-Baqarah ayat 183 (“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”),

karena secara langsung mengekang hawa nafsu yang menjadi sumber dosa.

Puasa juga merupakan penghayatan nyata akan makna firman Allah Swt bahwa:

وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنتُمْ ۚ وَٱللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

وَلِلَّهِ ٱلْمَشْرِقُ وَٱلْمَغْرِبُ ۚ فَأَيْنَمَا تُوَلُّوا۟ فَثَمَّ وَجْهُ ٱللَّهِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ وَٰسِعٌ عَلِيمٌ

“Dia (Allah) itu bersama kamu di mana pun kamu berada, dan Allah itu Mahaperiksa akan segala sesuatu yang kamu perbuat. (QS.Al-Hadid/57:4). Kepunyaan Allahlah Timur dan Barat; maka ke mana pun kamu menghadap, di sanalah wajah Allah.” (QS. Al-Baqarah/2:115).

Pemikir Islam modern asal Mesir, Ali Ahmad al-Jurjawi, dalam uraiannya tentang hikmah puasa, mengatakan bahwa puasa adalah sebagian dari sepenting-penting syar’i (manifestasi religiusitas) dan seagung-agung qurbah (amalan pendekatan diri kepada Tuhan). 

Bagaimana tidak, padahal puasa itu adalah rahasia antara seorang hamba dan Tuhannya, yang tidak termasuki pamrih, kecuali berharap atas Wajah Allah. Tidak ada pengawas dirinya selain Dia.

Dari penjelasan itu tampak bahwa sesungguhnya inti pendidikan Ilahi melalui ibadah puasa ialah penanaman dan pengukuhan kesadaran yang sedalam-dalamnya akan kemahahadiran Tuhan.

Kesadaran itu pula yang melandasi ketakwaan atau merupakan hakikat ketakwaan itu, dan membimbing ke arah tingkah laku yang baik dan terpuji. Dan dalam konteks ini pulalah esensi puasa menjadi amat penting di tengah kian tak terbendungnya pola hidup hedonis yang serba materialistik.  Wallahua’lam. [ ] 

Ahmad Nurcholish, Direktur Eksekutif Harmoni Mitra Madania, Pengajar ‘Religious Studies’ Univ. Prasetya Mulya, BSD – Tangerang

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses