KUPANG, KALAWACA.COM — Di tengah peringatan 60 tahun Hari Aksara Internasional pada 8 September 2026, kondisi literasi Indonesia masih menjadi pekerjaan rumah besar. Berbagai hasil asesmen pendidikan dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan kemampuan literasi peserta didik Indonesia masih memerlukan perhatian serius, mulai dari memahami bacaan, menarik makna dari teks, hingga berpikir kritis.

Pemerintah pun menggencarkan Gerakan Literasi Nasional (GLN) di sejumlah daerah, salah satunya Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), yang ditetapkan sebagai salah satu prioritas penguatan literasi nasional pada 2026. Melalui GLN, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) berupaya membangun ekosistem membaca yang melibatkan sekolah, keluarga, komunitas, pemerintah daerah, hingga mitra pembangunan.
Program itu mengemuka dalam kegiatan Bimbingan Teknis Literasi Generasi Muda dan Gelar Wicara Praktik Baik Literasi di NTT, hasil kolaborasi Pemerintah Provinsi NTT, INOVASI, dan Bank Indonesia.
Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Hafidz Muksin, mengatakan peningkatan kualitas literasi tidak mungkin ditanggung oleh pemerintah semata.
“Partisipasi semesta menjadi kunci untuk membangun ekosistem pendidikan yang bermutu dan berkeadilan,” kata Hafidz.
Pemerintah memilih memperluas akses terhadap bahan bacaan bermutu sebagai salah satu strategi utama. Di NTT, Badan Bahasa berencana mendistribusikan masing-masing 200 buku bacaan ke 1.294 sekolah dasar dan 300 buku ke 393 sekolah menengah pertama.
“Anak-anak harus memiliki akses terhadap buku-buku yang bermutu, menarik, sesuai usia dan jenjang pendidikan mereka. Dari sanalah kebiasaan membaca dan kemampuan berpikir kritis dapat tumbuh,” ujar Hafidz.
Selain menyasar sekolah, dukungan juga diberikan kepada jaringan literasi masyarakat. Sebanyak 5.400 buku bacaan diserahkan kepada Bunda Literasi NTT untuk didistribusikan ke berbagai wilayah, ditambah perangkat penyimpanan berisi 1.400 judul buku digital.
Di lapangan, Balai Bahasa Provinsi NTT bersama Forum Taman Bacaan Masyarakat melibatkan sekitar 700 siswa dari jenjang SD hingga SMA dalam berbagai aktivitas membaca dan pembelajaran literasi.
Dalam sambutan yang dibacakan Staf Ahli Gubernur NTT, Henderina Laiskodat, disebutkan tingkat kegemaran membaca masyarakat NTT mencapai 62,05 berdasarkan Survei Tingkat Kegemaran Membaca 2025 Perpustakaan Nasional – di atas rata-rata nasional yang tercatat 54,80. Meski demikian, tingginya kegemaran membaca belum otomatis berbanding lurus dengan kualitas literasi.
Bunda Literasi NTT, Mindriyati Astiningsih Laka Lena, menilai keluarga tetap menjadi titik awal pembentukan budaya membaca.
“Kami tidak bisa berjalan sendiri. Gerakan literasi membutuhkan kolaborasi seluruh pihak agar dampaknya benar-benar dirasakan masyarakat,” ujarnya.
Referensi
- Schoolmedia.id, “Kondisi Literasi Indonesia Memprihatinkan, Kemendikdasmen Perkuat Gerakan Literasi Nasional”, news.schoolmedia.id




















