
Kalawaca.com — Fenomena cahaya menyerupai “bintang berekor” yang tampak di langit malam pada awal Ramadhan 1447 Hijriah ramai diperbincangkan di media sosial. Sejumlah video yang beredar memperlihatkan objek bercahaya dengan ekor tipis memanjang, memicu spekulasi warganet yang mengaitkannya dengan tanda-tanda akhir zaman.
Narasi tersebut salah satunya disorot media daring Suara.com yang melaporkan viralnya klaim bahwa kemunculan “bintang berekor” berkaitan dengan dukhan atau kemunculan Dajjal. Klaim itu menyebar cepat melalui potongan video dan pesan berantai tanpa disertai rujukan ilmiah maupun dalil yang jelas.
Klarifikasi Ulama: Riwayat Lemah dan Tidak Relevan
Pendakwah Khalid Basalamah dalam sejumlah ceramahnya menegaskan bahwa riwayat hadits yang menyebut kemunculan bintang berekor sebagai penanda peristiwa besar menjelang kiamat tidak memiliki dasar kuat. Ia menyebut sebagian riwayat tersebut berstatus lemah bahkan palsu.
Menurutnya, mengaitkan fenomena astronomi dengan kepastian waktu tanda kiamat adalah sikap yang berlebihan dan tidak proporsional. “Tanda-tanda besar kiamat memiliki keterangan yang jelas dalam hadits sahih. Tidak setiap fenomena langit bisa serta-merta disimpulkan sebagai isyarat eskatologis,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan agar umat Islam tidak mudah terpancing narasi sensasional, terutama di bulan Ramadhan yang seharusnya difokuskan pada penguatan ibadah dan refleksi diri.
Penjelasan Sains: Komet dan Meteor
Secara astronomi, fenomena yang kerap disebut “bintang berekor” umumnya merujuk pada komet atau meteor. Komet adalah benda langit yang mengelilingi Matahari dan ketika mendekati pusat tata surya akan memunculkan ekor akibat penguapan es dan debu. Sementara meteor adalah serpihan batuan luar angkasa yang terbakar saat memasuki atmosfer Bumi.
Dalam kondisi langit cerah dan minim polusi cahaya, fenomena tersebut dapat terlihat lebih jelas, termasuk pada bulan Ramadhan yang tahun ini bertepatan dengan musim peralihan di sejumlah wilayah Indonesia.
Pengamat astronomi menyebut, tanpa data observasi resmi seperti waktu, koordinat langit, dan rekaman teleskop, sulit memastikan objek yang terekam dalam video viral tersebut. Namun secara umum, tidak ada laporan resmi dari lembaga astronomi nasional mengenai fenomena luar biasa yang berkaitan dengan tanda-tanda kiamat.
Antara Iman dan Literasi Informasi
Fenomena ini kembali menunjukkan rendahnya literasi sains dan verifikasi informasi di ruang digital. Alih-alih mencari rujukan ilmiah, sebagian warganet justru lebih cepat menyebarkan tafsir yang dramatis.
Ramadhan semestinya menjadi momentum memperkuat nalar kritis dan ketenangan batin. Keyakinan tidak perlu dibangun di atas ketakutan yang diproduksi oleh potongan video tanpa konteks.
Sikap tabayyun—memeriksa dan mengklarifikasi informasi—menjadi kunci agar ruang publik tidak dipenuhi spekulasi. Fenomena langit adalah bagian dari sunnatullah yang dapat dijelaskan melalui ilmu pengetahuan. Mengaitkannya secara serampangan dengan kiamat justru berpotensi mengaburkan ajaran yang sahih.
Kalawaca.com mengimbau pembaca untuk selalu memverifikasi informasi, terutama yang menyangkut isu keagamaan dan fenomena alam, kepada sumber yang kredibel—baik ulama dengan kompetensi keilmuan yang jelas maupun lembaga sains yang berwenang.



















