Beranda Pendidikan Henny Supolo: Orang Tua Harus Jadi Kompas Moral Anak di Era Digital...

Henny Supolo: Orang Tua Harus Jadi Kompas Moral Anak di Era Digital dan AI

Henny Supolo Sitepu, Ketua Yayasan Cahaya Guru
Henny Supolo Sitepu, Ketua Yayasan Cahaya Guru

JAKARTA, Kalawaca.com – Orang tua memiliki peran strategis sebagai penjaga nilai-nilai Pancasila di tengah derasnya arus digitalisasi dan perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI). Peran tersebut dinilai semakin penting untuk membentuk karakter generasi muda yang kritis, berempati, dan memiliki integritas.

Pandangan itu disampaikan pendiri Yayasan Cahaya Guru, Henny Supolo, dalam Forum Diskusi Denpasar 12 (FDD12) bertajuk “Orang Tua sebagai Penjaga Nilai Pancasila: Tantangan Pendidikan Karakter di Era Digital dan AI” yang digelar Rabu (3/6/2026).

Diskusi yang digagas Wakil Ketua MPR RI, Dr. Lestari Moerdijat, tersebut merupakan bagian dari refleksi peringatan Hari Lahir Pancasila dan Hari Orang Tua Sedunia. Forum menghadirkan sejumlah akademisi, psikolog, dan praktisi pendidikan untuk membahas penguatan pendidikan karakter berbasis Pancasila di lingkungan keluarga.

Dalam paparannya, Henny menegaskan bahwa kemampuan berpikir kritis menjadi bekal utama yang harus ditanamkan kepada anak sejak dini.

Menurutnya, berpikir kritis merupakan bagian dari kemerdekaan berpikir yang memungkinkan anak memilah informasi yang mereka terima, terutama dari media sosial dan berbagai platform digital.

“Anak-anak perlu memiliki kemampuan berpikir kritis agar dapat memahami mana informasi yang baik dan mana yang tidak sesuai. Mereka juga harus berani menyampaikan pendapat karena merasa suaranya berharga,” ujar Henny.

Ia menilai nilai-nilai Pancasila tidak boleh berhenti sebagai hafalan atau sekadar konsep formal yang diajarkan di sekolah. Sebaliknya, nilai tersebut harus dihubungkan dengan pengalaman hidup sehari-hari yang dekat dengan anak.

Henny mencontohkan bagaimana sila kedua Pancasila tentang kemanusiaan masih sangat relevan dengan persoalan perundungan yang banyak terjadi di lingkungan pendidikan.

“Anak perlu melihat bahwa nilai kemanusiaan itu hadir dalam kehidupan mereka sehari-hari, termasuk dalam upaya menghentikan bullying di sekolah,” katanya.

Selain itu, Henny menyoroti pentingnya kemampuan orang tua untuk mendengarkan anak. Menurutnya, sikap mendengarkan merupakan bentuk penghargaan yang akan membantu membangun rasa percaya diri dan kemandirian anak.

Ketika pendapat anak dihargai, lanjutnya, mereka akan lebih berani berpikir, bertanya, dan mengembangkan kemampuan kritis.

Dalam konteks penggunaan teknologi, Henny menyebut orang tua harus berperan sebagai filter utama sekaligus kompas moral bagi anak-anak mereka.

“Keteladanan menjadi sangat penting. Jika orang tua meminta anak membatasi penggunaan gawai, maka orang tua juga perlu melakukan hal yang sama,” ujarnya.

Ia mendorong keluarga untuk menciptakan ruang bebas layar, seperti di meja makan atau ruang keluarga, agar komunikasi antaranggota keluarga tetap terjaga.

Meski demikian, Henny tidak memandang teknologi digital sebagai ancaman semata. Ia menilai berbagai konten digital dapat dimanfaatkan sebagai sarana dialog antara orang tua dan anak.

Menurutnya, orang tua dapat menggunakan konten yang dikonsumsi anak sebagai bahan diskusi untuk menggali pandangan mereka sekaligus menanamkan nilai-nilai kebaikan.

Bahkan, orang tua juga dapat menciptakan konten digital bersama anak melalui kegiatan bercerita atau storytelling yang mampu membangun kepercayaan dan empati.

Di tengah derasnya arus informasi dan kegaduhan media sosial, Henny juga mengingatkan pentingnya menumbuhkan “roso” atau kepekaan rasa pada anak.

Ia menilai anak perlu memiliki waktu untuk hening dan berefleksi agar mampu memahami batas kepantasan serta membedakan perilaku yang baik dan buruk.

Tak kalah penting, karakter anak juga dibentuk melalui pengalaman melakukan kesalahan. Karena itu, orang tua perlu memberikan ruang bagi anak untuk belajar dari kesalahan dan bertanggung jawab memperbaikinya.

“Anak perlu belajar mengakui kesalahan dan memperbaikinya. Dari situ karakter akan tumbuh,” katanya.

Henny menegaskan, tantangan masa depan menuntut anak-anak memiliki empati, ketangguhan, integritas, kemerdekaan berpikir, dan keberanian memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan.

Menurutnya, keberhasilan pendidikan karakter berbasis Pancasila dapat diukur dari sejauh mana anak memahami keberadaannya sebagai individu yang bernilai dan percaya bahwa dirinya mampu memberikan kontribusi positif bagi lingkungan sekitar.

Forum Diskusi Denpasar 12 juga menghadirkan Guru Besar Fakultas Psikologi Universitas Indonesia Prof. Dr. Rose Mini Agoes Salim, aktivis pendidikan Indra Charismiadji, pakar pendidikan karakter Dr. Doni Koesoema, serta dimoderatori Eva Kusuma Sundari. Acara ditutup oleh wartawan senior Dr. Usman Kansong.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini