BLORA, KALAWACA.COM — Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono menyatakan uji coba Makan Bergizi Gratis (MBG) berkonsep prasmanan di SDN 5 Ngawen berhasil menurunkan sisa makanan.
Model Prasmanan MBG
Uji coba ini dilaksanakan di 60 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang memasak makanan secara terpusat lalu mengantarkannya dalam keadaan hangat ke kelas. Sistem prasmanan memungkinkan siswa mengambil porsi sesuai kebutuhan, sehingga makanan yang masih tersedia dapat dimanfaatkan oleh teman sekelas. Sudaryono menambahkan bahwa model ini bertujuan mengurangi jeda waktu antara proses memasak dan konsumsi, menjaga kualitas serta kebersihan makanan.
“Sejauh ini tadi saya dapat laporan, tingkat kehabisan makanannya bagus. Jadi lebih fresh, kemudian ada yang mungkin mau nambah, masih ada sisa bisa nambah. Waste‑nya lebih sedikit karena prasmanan,” kata Sudaryono dalam siaran pers Selasa (6/10/2026).
Menurut Sudaryono, konsep prasmanan ini diadaptasi dari sistem penyediaan makan sekolah di Jepang, yang mengandalkan dapur sentral (central kitchen) untuk memastikan standar gizi dan keamanan pangan. Ia menekankan bahwa makanan yang disajikan langsung di kelas tetap hangat, sehingga rasa dan nilai gizi tidak berkurang. Pendekatan ini juga diharapkan menurunkan risiko kerusakan makanan yang dapat menimbulkan gangguan kesehatan.
Keunggulan lain yang diidentifikasi adalah peningkatan kepuasan siswa. Dengan kebebasan memilih, anak‑anak dapat menambah porsi jika masih merasa lapar, sementara yang sudah cukup tidak dipaksa menghabiskan makanan. Hal ini berkontribusi pada penurunan sampah makanan di lingkungan sekolah, sebuah isu penting dalam upaya keberlanjutan.
Tantangan dan Harapan
Pelaksanaan model prasmanan menuntut kesiapan logistik baik dari dapur maupun pihak sekolah. Sudaryono mengakui bahwa proses adaptasi memerlukan pelatihan khusus bagi guru dan staf kantin agar prosedur penyajian berjalan lancar. “Prasmanan ini memang kalau sudah terbiasa akan bagus, sama seperti di negara lain. Cuma perlu ada training yang cukup,” ujarnya.
Selain itu, koordinasi antara BGN, Dinas Pendidikan, dan SPPG menjadi faktor kunci untuk memperluas skala uji coba. Sudaryono berharap hasil positif di Blora dapat menjadi contoh bagi daerah lain, khususnya yang memiliki tantangan distribusi makanan di wilayah terpencil. Ia menutup pernyataannya dengan optimisme bahwa model ini dapat diintegrasikan ke program MBG nasional dalam jangka menengah.
Jika berhasil, model prasmanan MBG tidak hanya meningkatkan efisiensi penggunaan pangan, tetapi juga mendukung agenda pemerintah dalam mengurangi sampah makanan serta meningkatkan gizi anak sekolah. Dengan dukungan berkelanjutan, BGN berencana memperluas pilot ke lebih banyak sekolah pada tahun mendatang.
Artikel ini disusun berdasarkan pemberitaan Uji Coba MBG Prasmanan, Kepala BGN: Siswa Bisa Nambah, Sisa Makanan Lebih Sedikit (nasional.kompas.com, 6 Oktober 2026).



















