Oleh Ahmad Nurcholish
Kesibukan para murid dan orang tua mencari kebaya, blangkon, dan pakaian khas Jawa Tengah lainnya selalu mewarnai jelang peringatan hari Kartini yang jatuh pada tanggal 21 April saban tahunnya. Seolah ingatan kita tentang perempuan pejuang emansipasi kaumnya ini hanya itu. Padahal Kartini tak sebatas kebaya dan seremoni. Kartini adalah hak perempuan, perjuangan kesetaraan jender, dan nasionalisme Indonesia di akhir abad ke-19.
Itu sebabnya, W.R. Supratman ada benarnya ketika menyebut Kartini sebagai “pendekar kaumnya”. Seorang pendekar adalah pembela yang tak selamanya memenangi perkelahian. Demikian catatan Majalah Tempo dalam edisi khusus April 2013 yang kemudian diterbitkan dalam bentuk buku bekerjasama dengan Kepustakaan Populer Gramedia pada Juni 2013 silam.
Perempuan kelahiran Jepara ini memang aktivis-pemikir yang jatuh bangun. Lahir dari keluarga menak, Kartini menolak poligami – tapi menjadi korban tradisi itu. Ketika Bupati Rembang Adipati Djojodiningrat menikahi Kartini, ia adalah lelaki dengan tiga selir. Lamaran diajukan setelah sang Bupati yang memiliki tujuh anak ini ditinggal mati garwa padmi atau istri utama.
Kartini sendiri juga lahir dari Rahim garwa ampil atau selir. Ngasirah, sang ibunda, adalah satu dari dua istri RMAA Sosroningrat yang kala itu menjabat sebagai Bupati Jepara. Kartini tak mampu melawan tradisi: sejak belia ia terbiasa melihat ibunya mlaku ndodok (berjalan jongkok) , ngesot, di depan suami dan anak-anak sendiri.
Kartini adalah kontradiksi: ia cerdas sekaligus lemah hati. Ia tak enggan menyerap ide masyarakat Barat tapi tak takluk pada adat. Ia feminis yang dicurigai. Ia dianggap terkooptasi oleh ide-ide colonial. Tapi satu yang tak bisa dilupakan: ia inspirasi bagi gerakan nasionalisme di Tanah Air hingga dewasa ini.
Perempuan Jawa ini merupakan pemikir feminisme awal di Indonesia. dia perempuan yang gagasan-gagasannya dinilai mencerahkan dan mengilhami banyak kalangan. Untuk hal ini ia mewariskan ratusan pucuk surat – bagian dari korespondensinya dengan sahabat-sahabatnya di Belanda.
Surat-surat tersebut sejauh ini merupakan dokumen tertulis paling awal hasil pemikiran perempuan, dengan cakupan topic yang beragam. Meliputi antara lain kebebasan, kemerdekaan, kesetaraan jender, kemandirian, dan pendidikan, yang bisa diperoleh dari masa itu. Sebagian dari surat itu dikompilasi dan diterbitkan sebagai buku yang judul aslinya Door Duisternis Tot Licht yang kemudian diterjemahkan menjadi Habis Gelap Terbitlah Terang. Dari surat-suratnyalah kita lalu dapat membangun gambaran mengenai sosok Kartini lebih dari sekadar profilnya.
Gambaran itu, seperti ulasan Tempo, memuat kisah hidupnya, lengkap dengan heroisme dan tragedinya, serta bagaimana pikiranpikirannya ditempa sebagai respon terhadap situasi menindas yang dialaminya. Pengalaman ini penting dan, menurut Goenawan Mohamad dalam pengantar buku Aku Mau… Feminisme dan Nasionalisme (Surat-surat Kartini kepada Stella Zeehandelaar), membedakan Kartini dari para pemikir feminism pada akhir abad ke-20, dan terutama kaum cendekiawan – yang umumnya laki-laki – pada masa colonial Belanda. Pengalaman Kartini adalah bagaimana dia mananggung kepedihan sebagai perempuan.
Melampaui Zamannya
Tak hanya itu. Betapa singkat hidup Kartini, tapi panjang nian umur gagasan-gagasan progresifnya melampaui zamannya. Terlahir sebagai anak kesanyangan Bupati Jepara, ia meninggal pada usia 25 tahun – empat hari setelah melahirkan anaknya, Soesalit. Meski bergelar raden ajeng, tapi ia tak peduli. Dengan meminta dipanggil Kartini saja, dia ingin menujukkan bahwa semua orang sama, tidak dibedakan oleh pangkat, jabatan, atau gelar kebangsawanan.
Permintaan tersebut sesungguhnya merupakan pernyataan sikap, deklarasi pendiriannya, yang menolak hal-hal yang sudah usang dan membelenggu dalam masyarakat saat itu. “Kartini adalah prototype manusia Indonesia baru,” ujar Didi Kwartanada, sejarawan dari Yayasan Nabil, sebagaimana dikutip Tempo, Maret 2013.
Didi juga menyimpulkan secara gamblang bahwa Kartini juga menunjukkan penghargaannya kepada orang atau budaya lain, hal yang sebelumnya tak dilakukan orang. “Ia menganggap semuanya egaliter. Ini hal penting. Kartini harus didudukkan di situ,” ujarnya.
Dengan karakter seperti itu, tak aneh bila Kartini memberontak terhadap berbagai hal yang ia nilai tak memperlakukan manusia secara setara. Subtansi pemberontakannya dapat kita temukan dalam kumpulan suratnya yang sudah diterbitkan sebagai disebut di atas, dan buku berikutnya yang lebih lengkap, Kartini: Brieven aan Mevrouw R.M. Abendanon-Mandri en Haar Echtgenoot, yang diterbitkan dalam bahasa Indonesia menjadi Kartini: Surat-surat kepada Ny. R.M. Abendanon-Mandri dan Suaminya.
Perlawanan Kartini dimulai di lingkungan keluarganya sendiri. Ia, bersama dengan dua adiknya, misalnya, berani melepaskan berbagai unggah-ungguh atau etiket yang dinilai ruwet. Kartini mengijninkan adik-adiknya memanggil dengan kata “kamu”, begitu pula Kartini memanggil adik-adiknya, hal yang sebelumnya terlarang. Kartini tak butuh panggilan dengan kromo inggil atau bahasa halus, apalagi sembah setelah berbicara, dari adik-adiknya.
Dalam bukunya berjudul Kartini: Sebuah Biografi, Sitisoemandari Soeroto menyebut tindakan Kartini itu revolusioner dan Kartini menjadi perintis yang patut dicatat dalam sejarah. Pun dengan Pramoedya Ananta Toer, yang menulis biografi Panggil Aku Kartini Saja, menyebutkan Kartini melihat baik atau buruk taka da batasnya dalam tata kehidupan feodal. Ukurannya hanyalah anggukan atau gelengan kaum aristokrat feodal, yang bisa sesuka-sukanya. Dalam kondisi itu, ilmu pengetahuan tak berharga sama sekali.
Membrontak terhadap feodalisme, menentang keras poligami, dan memperjuangkan akses pendidikan bagi perempuan adalah pokok-pokok perjuangan Kartini. Dia paham betul itu tak mudah dan butuh waktu yang panjang. Tapi ia percaya perjuangannya suatu saat akan membuahkan hasil. “Perubahan akan datang di Bumiputera,” Kartini menulis dalam surat kepada Stella pada 9 Januari 1901. “Jika tidak karena kami, pasti dari orang lain. Emansipasi telah berkibar di udara – sudah ditakdirkan.”
Ada energy yang bergelora, ada optimisme. Begitulah Kartini. Dalam kata-kata Aristides Katoppo, editor buku Satu Abad Kartini, “Ia menyongsong masa depan, (sementara) yang lain masih terkungkung dan tersandera keadaan.”
Demikianlah Kartini. Ia tak sekedar pejuang emansipasi perempuan. Ia juga gigih bicara tentang pentingnya pendidikan, pentingnya sebuah cita-cita, isu-isu kebangsaan, dan juga kemanusiaan, bahkan cinta dan agama. [ ]
Ahmad Nurcholish, Penulis Buku “Celoteh Kartini: 232 Ujaran Bijak Sang Pejuang Emansipasi (Elex Media Komputindo, 2018)



















