Beranda Opini Bukan Sekadar Relawan: Mahasiswa Biologi dan Solusi Sampah Organik Bandung Raya

Bukan Sekadar Relawan: Mahasiswa Biologi dan Solusi Sampah Organik Bandung Raya

Larva black soldier fly di atas sampah organik dalam wadah pengolahan
Ilustrasi: larva black soldier fly (BSF) mengurai sampah organik. Foto: Rodrick Rajive Lal/Wikimedia Commons, CC BY 4.0.

Kamis, 28 Mei 2026, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi turun langsung ke lapangan untuk mengomandoi penanganan darurat sekitar 113 ton sampah yang menumpuk di berbagai titik Bandung Raya. Targetnya, tumpukan itu tuntas dalam tiga hari.

Sebagai mahasiswa biologi, saya melihat peristiwa ini lebih dari sekadar keterlambatan pengangkutan sampah. Tumpukan itu mencerminkan sistem pengelolaan sampah yang masih reaktif, dari hulu hingga hilir.

Gubernur sendiri mengakui polanya. “Setiap libur panjang pasti melahirkan tumpukan sampah yang mungkin tidak selesai ditangani pasca libur itu,” kata Dedi seperti dikutip detikJabar. Jika polanya berulang, lonjakan sampah seharusnya bisa diantisipasi sebelum menggunung dan mengganggu warga, bukan ditangani setelahnya.

Persoalan di hilir memperberat keadaan. Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sarimukti di Kabupaten Bandung Barat, tujuan akhir utama sampah Bandung Raya, sudah lama dinilai kelebihan beban. Pada Juni 2026, daya tampungnya diperkirakan hanya bertahan hingga Oktober 2026. Dalam kondisi seperti itu, setiap lonjakan volume sampah, sekecil apa pun, berpotensi memicu krisis baru yang harus ditangani secara mendadak.

Mulai dari sampah organik

Di sinilah saya melihat peluang, terutama pada sampah organik: sisa makanan rumah tangga hingga limbah pasar tradisional. Jenis sampah ini menyumbang porsi terbesar timbulan sampah. Data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) yang disampaikan Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq mencatat, sisa makanan saja mencapai 39,87 persen dari total timbulan sampah nasional pada 2024.

Peluang itu bisa diwujudkan dengan dua cara. Pertama, mendampingi warga di permukiman padat mempelajari teknik komposting rumahan dengan bahan dan alat sederhana yang mudah didapat. Kedua, mengembangkan budidaya maggot black soldier fly (BSF) untuk mengurai sampah organik pasar. Larva BSF kemudian bisa menjadi pakan ternak yang bernilai ekonomi bagi peternak lokal.

Jika program semacam ini dikembangkan dengan serius dan melibatkan banyak warga di berbagai kecamatan di Bandung Raya, volume sampah yang diangkut ke TPA Sarimukti berpotensi berkurang sebelum kembali menumpuk. Beban TPA berkurang, sementara warga memperoleh nilai tambah ekonomi.

Riset dan edukasi dari lapangan

Peran mahasiswa biologi tidak berhenti pada aksi langsung. Kami juga bisa meneliti dan mengedukasi. Dengan turun ke area rentan seperti pasar tradisional, bantaran sungai, dan permukiman padat, mahasiswa dapat mengukur pengaruh tumpukan sampah terhadap kualitas tanah dan air di sekitarnya secara ilmiah.

Data hasil penelitian itu dapat menjadi dasar bagi pemerintah daerah untuk merumuskan kebijakan pengelolaan sampah yang lebih tepat sasaran. Mahasiswa juga dapat menjadi fasilitator yang mengajarkan warga memilah sampah organik dan anorganik sejak dari rumah, sehingga pengolahan berikutnya lebih mudah dan efisien.

Pendekatan berbasis sains dan edukasi ini diharapkan bisa menggeser kebiasaan warga: dari sekadar membuang sampah menjadi mengelolanya secara bertanggung jawab.

Dari relawan menjadi penggerak

Persoalan sampah sebesar ini tidak akan selesai dengan aksi bersih-bersih sesaat. Yang dibutuhkan adalah perubahan yang konsisten, dari tingkat rumah tangga hingga komunitas.

Di titik inilah mahasiswa biologi bisa berkontribusi lebih dari sekadar relawan yang turun memungut sampah. Mahasiswa dapat menjadi penggerak solusi berbasis sains yang berkelanjutan dan bisa direplikasi di wilayah lain.

Kuncinya adalah kolaborasi antara mahasiswa, pemerintah daerah, dan masyarakat. Tanpa itu, program pengelolaan sampah organik mudah berakhir sebagai proyek jangka pendek yang berhenti begitu perhatian publik mereda.

Dengan kerja sama semacam itu, kabar “113 ton sampah menumpuk di Bandung Raya” semoga tidak lagi terulang setiap kali libur panjang usai. Sistem pengelolaan sampah Bandung Raya perlu bergeser dari reaktif menjadi proaktif, dan mahasiswa biologi bisa ikut mendorong perubahan itu.

Nurma Amalia, mahasiswa Biologi Universitas Negeri Yogyakarta. Tulisan ini merupakan pandangan pribadi penulis.

Data Resmi

Referensi

  1. Bima Bagaskara, “113 Ton Sampah Masih Menumpuk di Bandung Raya”, detikJabar, 28 Mei 2026.
  2. “Dedi Mulyadi Targetkan Tumpukan 113 Ton Sampah di Bandung Raya Tuntas dalam Tiga Hari”, Jabar News, 29 Mei 2026.
  3. “TPA Sarimukti Berada di Ujung Tanduk, Hanya Bertahan Sampai Oktober 2026”, Republika, 13 Juni 2026.
  4. “Menteri LH: Sisa makanan masih jadi jenis timbulan sampah terbesar”, ANTARA, 15 Maret 2025.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini