75 Ribu Pelajar Bandung Terindikasi Gangguan Mental

Avatar Redaksi

2 menit baca

Ilustrasi kesehatan mental
Ilustrasi kesehatan mental

Bandung, Kalawaca.com — Sekitar 75 ribu pelajar tingkat SD hingga SMA di Kota Bandung terindikasi mengalami gangguan kesehatan mental. Data tersebut diungkap Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, berdasarkan hasil survei Dinas Kesehatan Kota Bandung.

Farhan menyebut angka tersebut bukan jumlah kecil dan harus disikapi dengan hati-hati. Menurutnya, persoalan terbesar dalam isu kesehatan mental justru sering kali datang dari sikap penyangkalan, terutama dari orang tua yang merasa anaknya dalam kondisi baik-baik saja.

“Ketika bicara gangguan mental, kita sering melihat ke anak orang lain. Jarang yang refleksi ke diri sendiri, jangan-jangan anak saya,” ujarnya, Senin (2/3/2026).

Pendekatan Pelan tapi Sistematis

Pemerintah Kota Bandung menegaskan tidak akan menggulirkan kampanye besar-besaran yang berpotensi memicu kepanikan. Pendekatan akan dilakukan secara bertahap dan terukur.

Salah satu langkah strategis yang disiapkan adalah menyinkronkan layanan kesehatan mental hingga ke tingkat puskesmas. Ke depan, seluruh puskesmas di Kota Bandung diwajibkan memiliki layanan psikologi klinis untuk mendukung deteksi dan penanganan dini.

Selain itu, asesmen awal terhadap siswa akan dilakukan oleh Guru Bimbingan Konseling (BK) di sekolah. Jika ditemukan indikasi masalah, siswa akan dirujuk ke puskesmas untuk pemeriksaan lanjutan oleh psikolog. Para psikolog juga akan memberikan capacity building kepada guru BK agar mampu mendeteksi gejala sejak dini.

Perubahan perilaku seperti siswa yang tiba-tiba menjadi pendiam, kehilangan semangat belajar, atau menunjukkan penurunan prestasi akan menjadi indikator awal yang perlu dicermati.

Sejalan dengan Tren Nasional dan Global

Temuan ini sejalan dengan berbagai riset terbaru yang menunjukkan meningkatnya persoalan kesehatan mental pada remaja. Sejumlah studi nasional mencatat prevalensi psychological distress pada remaja sekolah berada di kisaran dua digit, dengan gejala depresi dan kecemasan menjadi masalah paling dominan.

Secara global, laporan dari World Health Organization juga menyebutkan bahwa satu dari tujuh remaja di dunia mengalami gangguan mental, dengan depresi dan kecemasan sebagai penyebab utama beban penyakit pada kelompok usia muda.

Kondisi ini menunjukkan bahwa isu kesehatan mental pelajar bukan hanya persoalan lokal, melainkan tantangan besar yang membutuhkan keterlibatan sekolah, keluarga, dan layanan kesehatan secara terpadu.

Dengan pendekatan bertahap dan kolaboratif, Pemerintah Kota Bandung berharap deteksi dini dan penanganan cepat dapat mencegah masalah berkembang menjadi kondisi yang lebih serius di masa depan.

Menemukan kekeliruan? Ajukan koreksi atau hak jawab.