Yayasan INKLUSIF dan Mission-21 Latih Berpikir Kritis Anak Muda Penggerak Toleransi

Yayasan INKLUSIF dan Mission-21 menggelar pelatihan berpikir kritis bagi 15 pemuda lintas agama penggerak toleransi Jabodetabek di Bogor.

Avatar Redaksi

3 menit baca

Pelatihan berpikir kritis bagi pemuda lintas agama penggerak toleransi Jabodetabek di Bogor
Sumber: kalawaca.com

JAKARTA, KALAWACA.COM — Yayasan INKLUSIF bersama Mission-21 menyelenggarakan pelatihan critical thinking bagi anak muda penggerak toleransi dan perdamaian di Jabodetabek. Pelatihan berlangsung dua hari satu malam di Bogor dan diikuti 15 pemuda lintas agama dan kepercayaan dari berbagai komunitas.

Pelatihan itu dirancang untuk membekali peserta dengan soft skill yang dibutuhkan agen toleransi di lingkungannya masing-masing. Selama sepuluh sesi, peserta berlatih membedakan fakta dari opini, mengenali prasangka, bias, dan stereotip, memeriksa kebenaran informasi, menyusun dan menguji argumen, menganalisis akar konflik, serta mengambil keputusan secara bertanggung jawab. Di akhir pelatihan, setiap peserta menyusun rencana tindak lanjut untuk komunitasnya.

Soft skill bagi agen toleransi

Direktur Eksekutif Yayasan INKLUSIF, Muhammad Subhi, menilai kemampuan berpikir kritis sangat penting bagi anak muda yang bergerak di isu toleransi. Menurutnya, bekal tersebut akan dipakai peserta ketika menjadi agen toleransi di Jabodetabek.

Baca juga: Kondisi Literasi Indonesia Masih Jadi Tantangan, Kemendikdasmen Perkuat Gerakan Literasi Nasional di NTT | Kelas Logika di Kalirejo: Ketika Literasi Tak Lagi Sekadar Bisa Membaca | Henny Supolo: Orang Tua Harus Jadi Kompas Moral Anak di Era Digital dan AI

“Pelatihan critical thinking ini sangat penting untuk membekali anak-anak muda penggerak toleransi dengan soft skill. Bekal ini yang akan mereka pakai ketika menjadi pemuda-pemudi agen toleransi di Jabodetabek,” ujarnya.

Subhi juga berharap peserta berkomitmen menindaklanjuti hasil pelatihan dan membagikan keterampilan yang telah dipelajari kepada orang lain. Menurutnya, kebutuhan itu tidak hanya ada pada anak muda.

“Banyak orang tua juga membutuhkan pendekatan dan bimbingan tentang cara berpikir kritis, karena banyak konten yang menjerumuskan, terutama konten-konten AI. Karena itu, kami berharap peserta menyebarkan apa yang sudah dipelajari selama dua hari ini,” katanya.

Dilatih sampai menjadi kebiasaan

Pelatihan difasilitasi oleh Muhammad Mukhlisin. Modul yang dipakai disusun bersama Junaidi Simun dari CSRC UIN Jakarta, berdasarkan riset tentang kebiasaan anak muda masa kini, mulai dari pengaruh media sosial hingga penggunaan kecerdasan buatan (AI).

Mukhlisin menekankan bahwa berpikir kritis bukan keterampilan yang selesai dipelajari dalam dua hari. Menurutnya, kemampuan itu harus terus diasah hingga menjadi kebiasaan sehari-hari.

“Berpikir kritis harus terus diasah dan terus dilatih sampai menjadi kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari,” kata Mukhlisin.

Ia mengingatkan peserta untuk memakai tiga langkah, yakni Jeda, Periksa, dan Respons, setiap kali menerima informasi. Peserta diminta berhenti sejenak sebelum bereaksi, memeriksa sumber dan faktanya, lalu menentukan tanggapan yang tepat.

Mukhlisin juga berharap modul ini dapat dimanfaatkan lebih luas. Menurutnya, modul tersebut dapat dimodifikasi dan diterapkan di tempat lain sesuai kebutuhan masing-masing komunitas.

Masukan dari para peserta selama pelatihan akan dipakai untuk menyempurnakan modul sebelum digunakan lebih luas oleh penggerak toleransi dan perdamaian di Jabodetabek.

Menemukan kekeliruan? Ajukan koreksi atau hak jawab.