LAMPUNG TENGAH — Di ruang kelas SMP Xaverius Kalirejo, sekelompok siswa tak sedang menghafal rumus atau tanggal sejarah. Mereka justru diajak mempertanyakan sesuatu yang selama ini jarang disentuh kurikulum: bagaimana cara berpikir yang benar. Program bertajuk Kelas Logika ini digagas komunitas Kalirejo Book Party bersama SMP Xaverius Kalirejo di Lampung Tengah, berlangsung dalam empat pertemuan sepanjang Agustus 2026.
Siswa dikenalkan pada materi dasar logika, mulai dari prinsip logika klasik, logical fallacy atau kesalahan berpikir, silogisme, hingga elenchus dan dialektika — bekal yang jarang diajarkan eksplisit di bangku sekolah menengah, padahal krusial untuk menyaring derasnya informasi di media sosial.
Inisiator Kalirejo Book Party, Asep Sugiarto, mengatakan kemampuan berlogika berkaitan langsung dengan cara seseorang memahami informasi dan mengambil keputusan. Menurutnya, literasi semestinya tak berhenti begitu seseorang bisa membaca, melainkan berlanjut pada kemampuan memahami, mempertanyakan, dan menilai kewajaran sebuah informasi.
Kelas Logika bukan program pertama dari komunitas ini. Kalirejo Book Party bermula dari lima anak muda yang rutin berkumpul di sebuah kampung di Lampung Tengah, dan kini berkembang menjadi Rumah Literasi Kalirejo yang didatangi 10 hingga 15 pelajar SMP dan SMA setiap Sabtu sore. Asep menyebut tantangan terbesar bukan rendahnya minat baca, melainkan terbatasnya akses pada bacaan berkualitas.
Di tengah maraknya hoaks dan polarisasi opini di ruang digital, inisiatif akar rumput seperti ini menunjukkan bahwa penguatan nalar kritis bisa dimulai dari ruang paling sederhana: sebuah kampung, segelas kopi, dan kemauan untuk terus bertanya.




















