Beranda Pendidikan Yayasan Cahaya Guru Tunjukkan Jalan Kecil Menuju Indonesia yang Lebih Merdeka dan...

Yayasan Cahaya Guru Tunjukkan Jalan Kecil Menuju Indonesia yang Lebih Merdeka dan Mandiri

Henny Supolo Sitepu dalam FGD Mentalitas Manusia Indonesia, Apakah Kita Sudah Merdeka? Oleh Aliansi Kebangsaan.
Henny Supolo Sitepu dalam FGD Mentalitas Manusia Indonesia, Apakah Kita Sudah Merdeka? Oleh Aliansi Kebangsaan.

Jakarta, Kalawaca.com — Di tengah sekolah mayoritas muslim dan sekolah mayoritas Kristen di Ambon, ada satu program sederhana yang mempertemukan siswa-siswanya: bank sampah bersama antara SMAN 10 Ambon, SMPN 21 Salahutu, dan SMPN 9 Ambon. Kisah kolaborasi lintas iman inilah yang dibawa Ketua Yayasan Cahaya Guru (YCG), Henny Supolo Sitepu, sebagai bukti bahwa kemerdekaan dan kemandirian bangsa bisa dimulai dari langkah-langkah kecil di ruang kelas — dalam Focus Group Discussion (FGD) “Mentalitas Manusia Indonesia – Apakah Kita Sudah Merdeka?” yang digelar Aliansi Kebangsaan, Jumat (18/9/2026).

Diskusi daring melalui Zoom pukul 14.00–17.00 WIB ini turut menghadirkan keynote speaker Dr. Yudi Latif dengan tema “Mentalitas Bangsa – Fondasi Peradaban Indonesia”. FGD ini digagas sebagai langkah awal membangun kesadaran kolektif akan pentingnya mentalitas merdeka, dan hasilnya akan menjadi masukan bagi gerakan nilai kebangsaan lewat pendekatan top-down maupun bottom-up bersama komunitas seperti FKPPI.

Guru sebagai Titik Awal Perubahan

Dalam paparannya bertajuk “Merdeka dan Mandiri?”, Henny Supolo mengajak peserta melihat sekolah sebagai ruang yang paling berpeluang menumbuhkan mentalitas merdeka sejak dini. Ia mengutip Soekarno, “Perjuanganku lebih mudah karena melawan penjajah, tetapi perjuanganmu lebih berat karena melawan bangsa sendiri,” untuk menegaskan bahwa perjuangan membangun mentalitas bangsa adalah kerja jangka panjang yang dimulai dari sosok guru.

Ia memaparkan sederet cita-cita yang ingin diwujudkan dalam pendidikan Indonesia: sekolah yang bebas dari diskriminasi dan bias agama, gender, maupun kebutuhan khusus; guru yang percaya diri mengambil keputusan tanpa dibayangi tekanan pihak lain; serta anak-anak yang haknya untuk didengarkan dan dipertimbangkan pendapatnya benar-benar terpenuhi, sebagaimana diatur dalam Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 91/PUU-XVIII/2020. “Kita baru menuju merdeka,” ujarnya — sebuah ajakan optimistis bahwa arah sudah benar, tinggal terus diperjuangkan bersama.

Data sebagai Peta Jalan, Bukan Vonis

Untuk memperkuat argumennya, Henny turut membagikan hasil pemantauan YCG yang selama ini menjadi dasar kerja advokasi organisasinya di bidang pendidikan. Dari database Monitoring Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (KBB) di Sekolah, tercatat 55 kasus intoleransi yang berhasil diverifikasi — data yang menurut Henny justru menegaskan pentingnya kerja-kerja seperti Sekolah Guru Kebinekaan (SGK) yang dirintis YCG untuk terus diperluas. Sementara dari database Monitoring Kekerasan di Sekolah/Madrasah/Pesantren, tercatat 64 kasus sepanjang 2026, dengan kekerasan seksual dan perundungan sebagai jenis yang paling banyak dilaporkan.

“Ini bukan sekadar soal kekerasan, tapi gejala mentalitas yang belum terbiasa menyelesaikan persoalan lewat dialog dan aturan yang adil,” ujar Henny — sekaligus menegaskan bahwa data ini bukan untuk menghakimi, melainkan peta jalan untuk tahu di mana intervensi paling dibutuhkan.

Kemandirian, Satu Kata yang Perlu Terus Dirawat

Mengutip pemikir pendidikan HAR Tilaar, Henny mengingatkan pentingnya kemandirian berpikir, berpendapat, dan bersikap sebagai kata kunci yang menurutnya sempat “hilang” dalam dunia pendidikan. Ia menjabarkan lima ranah yang bisa menumbuhkannya: alam perguruan, alam keluarga, alam pergerakan pemuda-pemudi, negara, hingga tatanan global — semuanya bisa menjadi ruang belajar mengambil peran, bukan sekadar patuh.

Kisah bank sampah lintas sekolah di Ambon yang dibukanya di awal paparan menjadi bukti hidup dari gagasan ini: kolaborasi nyata antar-siswa dari latar keagamaan berbeda, tumbuh dari kegiatan bersama yang sederhana, bukan proyek besar dari atas. “Kenali kekuatan diri, kenali kekuatan lingkungan, gunakan keduanya untuk kebaikan dan perbaikan bersama,” ujarnya, mengutip semangat Ki Hajar Dewantara, Engku Syafei, dan Nurcholish Madjid.

Henny menutup paparannya dengan mengutip pesan Mohamad Dhofier dari Sanggar Kreasi Inovasi Nurul Fatikhah, Tegal: “Tak apa hari ini kecil, kelimpahan itu perlu dicicil.” Sebuah pengingat bahwa perjalanan menuju Indonesia yang merdeka secara mental dan mandiri secara berpikir tidak harus dimulai dari langkah besar — cukup dari kelas, dari sekolah, dan dari komunitas guru yang berani memulai. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini