Oleh: Mohammad Fatih Shaleh, Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Dalam perjalanan panjang sebuah bangsa, pendidikan kerap disebut sebagai urat nadi yang mengalirkan kehidupan sekaligus ujung tombak yang menentukan arah masa depan. Namun, di balik berbagai jargon kemajuan, tersimpan pertanyaan mendasar: apakah pendidikan kita hari ini benar-benar membebaskan atau justru menjinakkan?
Pendidikan Tidak Pernah Netral
Mengacu pada gagasan tokoh pendidikan Paulo Freire, pendidikan pada hakikatnya tidak pernah netral. Pendidikan selalu berada di antara dua kutub: menjadi instrumen penjajahan yang menjinakkan nalar dan daya kritis, atau menjadi alat pembebasan yang memanusiakan manusia seutuhnya.
Gagasan Freire bukan sekadar teori dalam buku-buku pedagogi. Ia menjadi cermin sekaligus landasan untuk menilai bagaimana sistem pembelajaran bekerja hari ini. Ketika pendidikan gagal menjadi ujung tombak pembebasan, ia berpotensi berubah menjadi alat produksi yang mencetak individu-individu tanpa kesadaran kritis—sekadar “sekrup” dalam mesin industri.
Tragedi Kerendahan Diri di Akar Rumput
Kegagalan pendidikan dalam memanusiakan manusia tercermin pada mentalitas masyarakat. Sebuah ironi tampak ketika seorang petani berkata, “Apalah saya, saya hanya seorang petani.”
Kalimat ini bukan cerminan kerendahan hati, melainkan luka sosial—rasa inferioritas yang secara halus ditanamkan oleh sistem yang diskriminatif. Tanpa disadari, sistem tersebut mengalienasi kelompok akar rumput, membuat mereka merasa kurang bernilai dibandingkan profesi lain.
Ilusi Kesuksesan dan Hierarki Sosial
Di sisi lain, terbentuk konstruksi sosial yang menetapkan standar tunggal tentang kesuksesan. Keberhasilan seolah hanya dimiliki mereka yang berdasi, menyandang gelar akademik, dan bekerja di ruang-ruang berpendingin udara.
Konstruksi ini memperlebar jurang sosial. Masyarakat masih mengagungkan hierarki profesi dan ijazah sebagai penentu martabat. Akibatnya, profesi fundamental seperti petani kerap dipinggirkan. Padahal, tanpa peran mereka, keberlangsungan hidup bangsa ini tidak mungkin terjaga.
Menuju Kemerdekaan Pikiran
Sebagai ujung tombak perjalanan bangsa, pendidikan memikul tanggung jawab untuk merombak cara pandang tersebut. Selama pendidikan masih melanggengkan stratifikasi sosial dan membuat seseorang merasa rendah diri atas pekerjaannya, selama itu pula pendidikan belum sepenuhnya merdeka.
Pendidikan yang membebaskan adalah pendidikan yang menumbuhkan kesadaran akan martabat manusia, apa pun profesinya. Sudah saatnya standar kesuksesan semu—yang diukur dari atribut fisik dan jabatan—ditinggalkan. Sebab, kemerdekaan sejati sebuah bangsa tidak hanya dibangun melalui infrastruktur, melainkan dimulai dari kemerdekaan berpikir setiap warganya.[MM]




















