Beranda Internasional Prancis Tambah 3.000 Guru Usai Demo Siswa SMA

Prancis Tambah 3.000 Guru Usai Demo Siswa SMA

Foto demonstran siswa SMA di Paris menuntut penambahan guru
Sumber: detik.com • 11 Okt 2026

PARIS, KALAWACA.COM — Pemerintah Prancis berjanji menambah 3.000 guru ke sekolah menengah setelah demonstrasi besar siswa SMA yang berlangsung sejak 21 September 2026.

Demonstrasi dimulai pada 21 September 2026 di sejumlah wilayah suburban Prancis, dipicu oleh keluhan siswa lycées mengenai kekurangan tenaga pengajar. Menurut data Kementerian Dalam Negeri, total peserta mencapai 71.500 orang, dengan Paris mencatat partisipasi tertinggi sebanyak 24.500 demonstran. Menteri Pendidikan Edouard Geffray menanggapi melalui Al Jazeera,

“Dalam beberapa jam ke depan, 3.000 guru akan mulai bertugas di sekolah-sekolah tersebut,”

ujar Geffray pada Minggu (11/10/2026).

Skala Demonstrasi dan Tuntutan

Para pengunjuk rasa menuntut reformasi menyeluruh, termasuk penurunan jumlah siswa per kelas, pemerataan fasilitas, serta penempatan perawat dan psikolog di setiap sekolah. Kelompok hak asasi manusia mencatat bahwa aparat keamanan menggunakan kekuatan berlebihan, menyebabkan sejumlah cedera serius. Demonstrasi kemudian menyebar ke kota‑kota lain, menambah tekanan pada pemerintah untuk merespons tuntutan tersebut.

Geffray menambahkan bahwa guru baru akan ditempatkan di sekolah prioritas antara hari Jumat dan Selasa, sementara kementerian berencana merekrut beberapa ratus guru tambahan dalam waktu dekat. Penempatan ini diharapkan dapat mengurangi beban kelas di daerah‑daerah paling terdampak. Pemerintah menegaskan komitmen jangka panjang untuk memperbaiki rasio guru‑siswa.

Reaksi Pemerintah dan Dampak

Perdana Menteri Sebastian Lecornu melaporkan 215 siswa, 89 guru, serta 761 petugas keamanan terluka sejak 28 September, dan 6.629 orang telah ditahan. Polisi membuka 18 penyelidikan internal terkait dugaan penggunaan kekerasan berlebih, termasuk insiden di Place de la Bastille yang melibatkan gas air mata. Kementerian Dalam Negeri menyatakan mayoritas tahanan adalah anak di bawah umur, sementara 375 sekolah ditutup sebagian atau total pada hari Kamis.

Sejak 9 Oktober 2026, sebagian besar siswa telah kembali ke kelas, dengan otoritas menyatakan gerakan protes mengalami penurunan signifikan. Namun, pihak berwenang mengakui bahwa sebagian besar cedera siswa terjadi karena kecelakaan saat demonstrasi, bukan akibat tindakan polisi. Upaya rehabilitasi dan konseling kini tengah digencarkan di sekolah‑sekolah yang terdampak.

Meski tekanan tampak mereda, semangat perlawanan masih kuat. Seorang siswa berusia 16 tahun di Toulouse mengatakan,

“Kami menyimpan energi kami untuk minggu depan,”

menegaskan kesiapan untuk aksi lanjutan. Siswa lain, Alice dari Marseille, mengapresiasi janji penambahan guru namun menilai langkah tersebut belum cukup untuk mengatasi masalah struktural.

Pemerintah menyiapkan demonstrasi besar pekan depan sebagai bagian dari dialog terbuka dengan para pemangku kepentingan. Kementerian Pendidikan berjanji akan memantau pelaksanaan penempatan guru baru secara ketat, sambil terus berkoordinasi dengan serikat guru dan organisasi siswa. Kalawaca.com akan terus melaporkan perkembangan selanjutnya.

Artikel ini disusun berdasarkan pemberitaan Buntut Demo Siswa SMA, Menteri Pendidikan Prancis Janji Tambah 3.000 Guru (detik.com, 11 Oktober 2026).

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini