Beranda Editorial Menanti Kejelasan dan Transparansi Skor TKA

Menanti Kejelasan dan Transparansi Skor TKA

Siswi SMA berjilbab mengerjakan soal ujian di ruang kelas
Siswi SMA mengerjakan Ujian Nasional 2009 (foto arsip). Foto: nugroho khoironi/Wikimedia Commons (CC BY-SA 2.0).

Dalam empat minggu, sekitar 3,5 juta siswa kelas 12 akan mengerjakan Tes Kemampuan Akademik (TKA). Hasilnya ikut menentukan peluang mereka masuk perguruan tinggi negeri. Namun, hingga kini mereka belum tahu persis bagaimana skor mereka akan dihitung.

Lewat Keputusan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor 56 Tahun 2026, pemerintah mengganti skala skor TKA jenjang SMA dan SMK dari 0–100 menjadi 200–800. Predikat “Istimewa” diberikan mulai skor 725. Keputusan itu ditetapkan pada 11 Maret 2026, tetapi baru ramai dibicarakan pertengahan September. Sampai hari ini, Kalawaca belum menemukan penjelasan resmi yang terbuka tentang alasan dan dasar teknis perubahan tersebut (baca beritanya).

Taruhan Tinggi, Penjelasan Minim

TKA bukan lagi sekadar alat pemetaan. Pemerintah menyatakan akan memperkuat pemanfaatannya dalam Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) bersama Majelis Rektor Perguruan Tinggi Negeri Indonesia. Di tingkat daerah, Daerah Istimewa Yogyakarta sudah memberi bobot 90 persen pada nilai TKA dan TKAD dalam penerimaan murid baru.

Semakin besar taruhan sebuah tes, semakin besar pula kewajiban penyelenggaranya untuk terbuka. Saat ini masih banyak yang gelap. Publik belum tahu bagaimana skor 200–800 dihitung. Publik juga belum tahu apakah ada penyetaraan agar peserta yang mendapat paket soal lebih sulit tidak dirugikan. Tidak jelas pula mengapa angka 725 dipilih sebagai batas predikat Istimewa. Batas skor untuk kategori Baik, Memadai, dan Kurang bahkan belum diumumkan.

Ketertutupan seperti ini tidak merugikan semua siswa secara setara. Siswa yang punya akses ke bimbingan belajar akan lebih cepat memahami aturan main yang baru. Siswa di sekolah yang jauh dari pusat informasi akan tertinggal, bukan karena kemampuan mereka lebih rendah, melainkan karena informasinya tidak sampai.

Angka Baru Tidak Mengubah Kemampuan

Kami juga khawatir perhatian publik tersedot ke angka, padahal persoalan sebenarnya ada di ruang kelas. Hasil TKA 2025 menunjukkan rata-rata nilai Bahasa Inggris wajib 24,93 dan Matematika 36,10. Pusat Asesmen Pendidikan Kemendikdasmen sendiri menjelaskan penyebabnya. Banyak siswa kesulitan memahami teks panjang secara utuh, dan soal Matematika memakai cara bertanya yang jarang ditemui di sekolah.

Temuan itu menunjuk pada kebiasaan membaca, cara mengajar penalaran, dan kesiapan guru. Semua itu tidak berubah hanya karena skor kini ditulis dalam rentang 200–800. Di saat yang sama, sekolah masih kekurangan 464.856 guru. Mengganti skala tanpa rencana perbaikan pembelajaran yang jelas berisiko meredam kegelisahan publik tanpa menyelesaikan masalahnya.

Mengganti skala pelaporan dalam sebuah tes bukan hal yang salah. Banyak tes seleksi di dunia memakai skor berskala. Yang menjadi masalah adalah perubahan tanpa penjelasan, menjelang tes, dan tanpa jembatan dengan data tahun sebelumnya. Tanpa kajian penautan, publik kehilangan cara untuk menilai apakah capaian belajar siswa membaik atau memburuk.

Perbaikan dan Transparansi TKA Harus Dilakukan

Karena itu, Kalawaca meminta Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah melakukan lima hal:

  • Menerbitkan catatan teknis penskoran TKA SMA/SMK sebelum tes dimulai pada 26 Oktober 2026, dalam bahasa yang dapat dipahami siswa, guru, dan orang tua.
  • Mengumumkan batas skor kategori Baik, Memadai, dan Kurang untuk setiap mata pelajaran, beserta dasar penetapan batas 725.
  • Memublikasikan kajian penautan atau tabel konversi antara skor TKA 2025 dan skala baru.
  • Menjelaskan secara rinci bagaimana skor TKA akan dipakai dalam SNBP 2027, termasuk bobotnya.
  • Mengumumkan rencana perbaikan pembelajaran berdasarkan temuan TKA 2025, terutama untuk literasi membaca dan penalaran matematika, serta membuka data hasil TKA bagi peneliti.

Tes yang ikut menentukan masa depan jutaan anak harus dapat diperiksa oleh publik. Kepercayaan terhadap asesmen nasional tidak lahir dari angka yang baru, tetapi dari cara menghitung yang terbuka dan perbaikan belajar yang nyata.

Tajuk ini merupakan sikap Redaksi Kalawaca. Analisis lengkap tentang perubahan skala skor TKA dapat dibaca di “Analisis: Skor TKA Berganti ke 200–800, Pertanyaan yang Belum Dijawab Pemerintah”.

Referensi

  1. “Link Pedoman TKA dan AN di Kepmendikdasmen Nomor 56 Tahun 2026“, detikEdu, 11 Maret 2026.
  2. “Skor Hasil TKA SMA-SMK 2026 Berubah! Bukan Lagi 0-100“, detikEdu, 16 September 2026.
  3. “Nilai Rata-Rata Anak SMA RI dari Hasil TKA 2025: Matematika 36,10“, Bloomberg Technoz, Desember 2025.
  4. “Rerata Nilai TKA Bahasa Inggris dan Matematika Jeblok, Ini Penyebabnya“, detikEdu, 22 Desember 2025.
  5. “Siswa SMA Wajib Tahu! Nilai TKA Segera Berlaku untuk SNBP dan SNBT 2027“, Medcom.id, 20 Mei 2026.
  6. “RI Masih Kekurangan 464.856 Guru, Kemendikdasmen Beberkan Roadmap Pengangkatan PNS“, detikEdu, 22 September 2026.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini