YPPK Merauke Latih 106 Guru di Mappi soal AI dan Coding, Internet Masih Jadi Kendala

YPPK Keuskupan Agung Merauke melatih 106 guru dan kepala sekolah dari 61 sekolah di Mappi tentang teknologi informasi, kecerdasan artifisial, dan coding.

Avatar Redaksi

2 menit baca

Taman Nol Kilometer di Distrik Sota, Merauke, Papua Selatan
Ilustrasi: Taman Nol Kilometer di Distrik Sota, Merauke (foto arsip). Foto: Marwan Mohamad/Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0.

MAPPI, KALAWACA.COM — Yayasan Pendidikan dan Persekolahan Katolik (YPPK) Keuskupan Agung Merauke menggelar pelatihan teknologi informasi, kecerdasan artifisial (AI), dan coding bagi guru dan kepala sekolah YPPK di Kabupaten Mappi, Papua Selatan. Pelatihan berlangsung 5–6 November 2026 di Aula PSW Mappi, Kota Kepi.

Sebanyak 106 guru dan tenaga kependidikan dari 61 sekolah mengikuti kegiatan ini. Narasumbernya RD Cristy Mahendra, dosen STIKOM Purwokerto dan anggota Tim Ahli IT Pendidikan Katolik Konferensi Waligereja Indonesia (KWI).

Ketua YPPK Keuskupan Agung Merauke RD Aloisius Kelbulan mengatakan, “Kita ingin anak-anak di Papua Selatan mendapatkan kualitas pendidikan yang baik dan tidak tertinggal dari daerah lain,” seperti dilaporkan Papua Selatan Pos.

Dari Merauke ke Boven Digoel dan Mappi

Pelatihan serupa sudah digelar di tiga kabupaten layanan YPPK: Merauke (75 sekolah dari TK hingga SMA), Boven Digoel (38 sekolah, Oktober 2026), dan kini Mappi (61 sekolah). Peserta diharapkan memanfaatkan AI dan coding untuk menyusun modul ajar, lembar kerja siswa, dan bahan ajar lain. Kepala sekolah diharapkan memakainya untuk manajemen sekolah, termasuk memantau kehadiran dan aktivitas siswa.

Kegiatan ini dikoordinasikan dengan Pemerintah Provinsi Papua Selatan, yang menanggung konsumsi, transportasi, dan narasumber.

Plh Kepala Dinas Pendidikan Mappi Wilhelmus Atonius Djula menegaskan pemerintah daerah memperlakukan sekolah negeri dan sekolah yayasan secara setara. “Kami dari pemerintah daerah melihat sekolah negeri maupun yayasan semuanya sama dan menjadi perhatian pemerintah,” ujarnya.

Kendala di sekolah pedalaman

Penerapan teknologi di Papua Selatan masih menghadapi keterbatasan jaringan internet dan sarana di sekolah pedalaman. Sebagian guru juga membutuhkan waktu untuk beradaptasi dengan perangkat digital. Tanpa listrik, perangkat, dan koneksi yang memadai, keterampilan yang diperoleh dalam pelatihan berisiko tidak terpakai di kelas.

Menemukan kekeliruan? Ajukan koreksi atau hak jawab.