Beranda Pendidikan UNICEF Apresiasi Kurikulum Berbasis Cinta dan Ekoteologi Kemenag

UNICEF Apresiasi Kurikulum Berbasis Cinta dan Ekoteologi Kemenag

UNICEF dan Kementerian Agama RI. Sumber: Kemenag
UNICEF dan Kementerian Agama RI. Sumber: Kemenag

Jakarta, KalawacaUNICEF apresiasi Kurikulum Berbasis Cinta dan Ekoteologi yang dikembangkan Kementerian Agama (Kemenag). Organisasi internasional tersebut menilai kedua program itu mampu memperkuat pendidikan inklusif, ramah anak, serta membangun kepedulian terhadap lingkungan.

Apresiasi tersebut disampaikan Perwakilan UNICEF untuk Indonesia, Maniza Zaman, saat bertemu Menteri Agama Nasaruddin Umar di Kantor Kementerian Agama, Jakarta, Senin (20/7). Pertemuan itu membahas penguatan kerja sama di bidang pendidikan keagamaan, perlindungan anak, dan pembangunan pendidikan berkelanjutan.

UNICEF Dorong Penguatan Kurikulum Berbasis Cinta

Maniza mengatakan berbagai inovasi Kementerian Agama layak menjadi contoh bagi dunia pendidikan. Menurutnya, implementasi Kurikulum Berbasis Cinta dan Ekoteologi telah memberikan dampak positif bagi guru maupun peserta didik.

“Berbagai praktik baik tersebut perlu didokumentasikan, diukur, dan dipromosikan agar dapat menjadi pembelajaran yang lebih luas,” kata Maniza.

UNICEF juga mengusulkan penguatan kerja sama melalui perluasan Pesantren Ramah Anak dan Madrasah Ramah Anak, pengembangan keterampilan peserta didik yang responsif gender, dukungan terhadap implementasi Ekoteologi dalam aksi iklim, serta pemanfaatan pembiayaan sosial syariah untuk meningkatkan kesejahteraan anak.

Kerja sama UNICEF dan Kementerian Agama sendiri telah diperkuat melalui Nota Kesepahaman (MoU) 2024–2028 bersama Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam.

Kurikulum Berbasis Cinta Ubah Pendekatan Pendidikan

Menteri Agama Nasaruddin Umar menjelaskan bahwa perubahan karakter peserta didik harus dimulai dari perubahan sistem pendidikan. Menurutnya, Kurikulum Berbasis Cinta dibangun di atas tiga fondasi utama, yaitu Tauhid, Logos, dan Ethics, yang kemudian diwujudkan dalam perilaku nyata atau Ethos.

“Jika kita ingin melakukan perubahan nyata dalam karakter anak bangsa, kita harus berani mengubah sistem pendidikannya,” ujar Nasaruddin.

Ia menjelaskan kurikulum tersebut bertujuan menumbuhkan kedekatan peserta didik dengan Tuhan, diri sendiri, sesama manusia, dan lingkungan. Selama dua tahun penerapan, pendekatan itu mulai mengubah cara guru mendidik. Banyak guru kini lebih mengutamakan dialog, kasih sayang, dan pembinaan karakter dibanding hukuman fisik.

“Kita ingin pendidikan melahirkan manusia yang mencintai sesama, menghargai perbedaan, dan menjaga alam sebagai bagian dari tanggung jawab kepada Tuhan,” kata Nasaruddin.

Ekoteologi Kemenag Tanamkan Kepedulian Lingkungan

Selain Kurikulum Berbasis Cinta, Kementerian Agama juga mengembangkan konsep Ekoteologi. Program ini menghubungkan nilai keagamaan dengan tanggung jawab menjaga lingkungan.

Menurut Nasaruddin, perubahan iklim dan kerusakan ekosistem harus dijawab melalui pendidikan yang membangun kesadaran ekologis sejak dini.

“Kesadaran spiritual ini penting karena dengan menjaga harmoni bersama alam, kita sedang menyelamatkan lingkungan hidup dan memperpanjang keberlangsungan kehidupan,” ujarnya.

Sebagai tindak lanjut, Kementerian Agama telah menyusun buku panduan resmi Ekoteologi dan menyiapkan studi komprehensif untuk mengukur efektivitas implementasinya.

Kemenag Perkuat Perlindungan Anak di Pesantren

Dalam pertemuan tersebut, Menteri Agama juga menegaskan komitmen Kementerian Agama memperkuat tata kelola pesantren. Langkah ini dilakukan untuk meningkatkan perlindungan anak, memperbaiki kualitas pengasuhan santri, serta memastikan penegakan hukum terhadap kasus kekerasan di lingkungan pendidikan keagamaan.

Menurut Nasaruddin, kolaborasi antara pemerintah, satuan pendidikan, orang tua, dan mitra internasional menjadi kunci keberhasilan implementasi Kurikulum Berbasis Cinta dan Ekoteologi. Melalui kerja sama tersebut, pendidikan diharapkan mampu melahirkan generasi yang unggul, berakhlak mulia, menghargai keberagaman, dan peduli terhadap kelestarian lingkungan.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini