WASHINGTON, Kalawaca – CEO Tesla, Elon Musk, memperingatkan Amerika Serikat menghadapi risiko kebangkrutan apabila tidak mampu meningkatkan produktivitas melalui AI dan robot. Menurut Musk, lonjakan utang nasional dan beban pembayaran bunga yang terus meningkat dapat mengancam stabilitas ekonomi negara itu.
Pernyataan tersebut disampaikan Musk dalam Dwarkesh Podcast pada 5 Februari. Ia menilai AI dan robot menjadi satu-satunya terobosan yang mampu mendorong produktivitas ekonomi secara signifikan sehingga dapat membantu mengendalikan laju utang pemerintah.
“Kita 1.000 persen akan bangkrut sebagai negara tanpa AI dan robot. Tidak ada hal lain yang akan menyelesaikan masalah utang nasional,” kata Musk.
Data Departemen Keuangan Amerika Serikat menunjukkan utang nasional kini mencapai sekitar US$39,6 triliun. Sementara itu, defisit anggaran federal dalam sembilan bulan pertama tahun fiskal 2026 tercatat sekitar US$1,37 triliun, seiring belanja pemerintah yang terus melampaui penerimaan negara.
Musk juga menyoroti besarnya beban pembayaran bunga utang pemerintah. Menurutnya, biaya bunga kini telah melampaui anggaran militer Amerika Serikat yang mencapai sekitar US$1 triliun per tahun.
Selain persoalan utang, Musk menilai pengeluaran pemerintah untuk sektor pertahanan berpotensi memperbesar tekanan fiskal. Artikel tersebut menyebut perang dengan Iran telah menelan biaya sekitar US$37,5 miliar, sementara sejumlah analis memperkirakan total biaya jangka panjang dapat menembus lebih dari US$1 triliun apabila memperhitungkan pembayaran bunga dan belanja lanjutan.
Kekhawatiran Serupa dari Pelaku Pasar
Peringatan Musk bukan satu-satunya. Pendiri Bridgewater Associates, Ray Dalio, juga pernah mengingatkan bahwa Amerika Serikat berisiko memasuki “debt death spiral”, yaitu kondisi ketika pemerintah harus terus berutang hanya untuk membayar bunga utang yang telah ada.
Meski demikian, Dalio menilai pemerintah kemungkinan tidak akan mengalami gagal bayar secara formal karena bank sentral masih dapat mencetak uang untuk memenuhi kewajiban tersebut. Menurutnya, risiko yang lebih besar adalah melemahnya nilai mata uang akibat ekspansi likuiditas.
Kekhawatiran serupa juga disampaikan CEO JPMorgan, Jamie Dimon. Ia memperingatkan bahwa peningkatan utang dan defisit pemerintah berpotensi memicu krisis di pasar obligasi apabila tidak direspons melalui kebijakan fiskal yang lebih berkelanjutan.
Sejumlah ekonom menilai tingginya utang pemerintah memang meningkatkan tekanan terhadap anggaran negara melalui pembayaran bunga. Namun, dampaknya terhadap stabilitas ekonomi sangat bergantung pada pertumbuhan ekonomi, kebijakan fiskal, inflasi, serta kemampuan pemerintah menjaga kepercayaan investor terhadap surat utang negara.



















