
Oleh: Syayidatul Atikah, mahasiswa Biologi Universitas Negeri Yogyakarta
Setiap kali kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terjadi, perhatian publik hampir selalu tertuju pada asap. Itu wajar. Asaplah yang paling cepat terasa: napas menjadi sesak, jarak pandang memendek, dan aktivitas sehari-hari terganggu.
Namun, ada yang jarang ikut terlihat, yakni apa yang terjadi di dalam hutan itu sendiri. Ketika sebuah kawasan terbakar, satwa yang hidup di sana kehilangan tempat tinggal, sumber makanan, dan tempat berlindung sekaligus. Karena itu, karhutla semestinya tidak dipandang semata sebagai gangguan asap bagi manusia, melainkan sebagai persoalan lingkungan yang menyangkut kehidupan makhluk lain.
Kalimantan Barat memberi contoh terbaru. Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) melaporkan, hingga pembaruan 21 September 2026, sebanyak 33 satwa liar telah dievakuasi dari kawasan terdampak karhutla di Kabupaten Ketapang dan Kayong Utara. Sebanyak 21 di antaranya orangutan. Sisanya 12 satwa lain, termasuk tujuh trenggiling dan dua bekantan.
Sebagian satwa itu mengalami gangguan pernapasan akibat paparan asap. Ada pula yang lari ke perkebunan warga untuk mencari makan dan tempat berlindung setelah hutan tempat mereka hidup terbakar. Angka-angka itu menunjukkan satu hal: ketika hutan terbakar, satwa tidak bisa begitu saja berpindah. Hutan di sekitarnya belum tentu menyediakan makanan, air, dan tempat berlindung yang mereka butuhkan.
Rumah yang ikut hangus
Hutan bukan sekadar hamparan pohon yang tampak hijau dari kejauhan. Ia adalah tempat bergantung berbagai makhluk hidup. Saat hutan terbakar, yang rusak bukan hanya batang dan daun yang hangus, melainkan juga rumah dan sumber pangan satwa di dalamnya.
Satwa yang kemudian muncul di kebun atau permukiman kerap dianggap pengganggu. Padahal, mereka sedang berusaha bertahan setelah kehilangan habitat. Dalam situasi seperti ini, manusia dan satwa sama-sama terdampak. Melihat karhutla hanya dari sisi kerugian manusia berarti melihat separuh persoalan.
Dampaknya pun dapat bertahan jauh lebih lama daripada kebakarannya. Orangutan, misalnya, menyebarkan biji dari buah yang mereka makan, sehingga keberadaannya berkaitan dengan regenerasi hutan. Jika habitat terus menyusut dan populasi satwa terancam, keseimbangan ekosistem terganggu dan pemulihan kawasan bekas terbakar menjadi lebih sulit.
Memadamkan api memang penting. Akan tetapi, pekerjaan belum selesai ketika api padam. Masih ada habitat yang harus dipulihkan dan satwa yang membutuhkan tempat hidup kembali.
Warga bisa ikut berperan
Masyarakat punya ruang untuk ikut menangani persoalan ini. Warga yang menemukan satwa liar di kebun atau permukiman sebaiknya melapor kepada petugas, bukan menangkap atau mengusirnya sendiri.
Kementerian Kehutanan, dalam siaran pers 17 September 2026, menyampaikan imbauan serupa. Warga yang menemukan satwa liar terdampak karhutla diminta menghubungi petugas, menyebutkan lokasi dengan jelas, menjelaskan kondisi satwa, mendokumentasikannya bila aman, lalu menyerahkan penanganan kepada petugas. Di Kalimantan Barat, laporan dapat disampaikan ke call center Balai KSDA Kalimantan Barat di nomor 0811-577-6767.
Informasi dari warga membantu petugas mengetahui lokasi dan kondisi satwa, terutama ketika kawasan terdampak sangat luas. Tindakan ini tampak sederhana, tetapi menunjukkan bahwa menjaga lingkungan bukan monopoli pemerintah atau lembaga konservasi.
Kepedulian itu juga semestinya tidak muncul hanya ketika asap sedang tebal atau ketika video penyelamatan satwa ramai di media sosial. Setelah api padam, hutan tidak serta-merta pulih. Sumber makanan, air, dan tempat berlindung satwa bisa ikut berkurang. Kerusakan yang terjadi dalam waktu singkat dapat membutuhkan waktu jauh lebih lama untuk dipulihkan.
Di sinilah pengetahuan tentang lingkungan berperan. Edukasi mengenai fungsi hutan dan habitat membantu masyarakat memahami bahwa satwa yang keluar dari hutan bukan semata gangguan, melainkan tanda bahwa habitatnya mungkin sedang rusak. Informasi yang benar juga membuat kepedulian tidak berhenti pada membagikan foto atau berita, tetapi mendorong orang memahami masalah dan bertindak tepat.
Langkahnya bisa dimulai dari hal yang dekat: tidak membakar lahan atau sampah sembarangan, melaporkan titik api, menjaga lingkungan sekitar, dan tidak mengganggu satwa liar yang ditemukan.
Bukan sekadar penonton
Generasi muda dapat mengambil peran lewat kegiatan yang dekat dengan keseharian, seperti membuat konten edukasi lingkungan, mengikuti kegiatan pengamatan satwa, menyebarkan informasi dari sumber tepercaya, atau mendukung upaya pemulihan habitat. Skalanya tidak harus besar. Perubahan kebiasaan di lingkungan sekitar pun tetap berarti.
Yang terpenting adalah kemauan untuk tidak sekadar menjadi penonton. Jika kepedulian hanya muncul saat sebuah kejadian viral, perhatian itu akan mudah hilang begitu ada berita baru yang lebih ramai.
Menjadi warga negara tidak hanya menyangkut hubungan antarmanusia, tetapi juga cara kita memperlakukan lingkungan tempat hidup bersama. Hutan dan satwa ikut menentukan kehidupan manusia, sehingga kerusakannya bukan masalah yang berdiri sendiri.
Karhutla memperlihatkan bagaimana api dan asap dapat berkembang menjadi persoalan habitat, satwa, kesehatan, dan penghidupan warga dalam waktu bersamaan. Menjaga lingkungan, dengan demikian, adalah tanggung jawab bersama agar ruang hidup manusia dan makhluk lain tetap terjaga.
Syayidatul Atikah adalah mahasiswa Program Studi Biologi Universitas Negeri Yogyakarta. Tulisan ini merupakan pandangan pribadi penulis.
Informasi Resmi
- Siaran Pers Kementerian Kehutanan SP.534/HKLN/09/2026: Upaya Serius Kemenhut Rescue Satwa Liar Terdampak Karhutla (memuat nomor call center Balai KSDA se-Kalimantan)
- YIARI: Update Situasi Karhutla
Referensi
- Yayasan IAR Indonesia, “Update Situasi Karhutla”, yiari.or.id, 16 September 2026 (diperbarui 21 September 2026).
- Kementerian Kehutanan, “Upaya Serius Kemenhut Rescue Satwa Liar Terdampak Karhutla”, kehutanan.go.id, 17 September 2026.
- “Karhutla Porak-porandakan Kalbar, YIARI Evakuasi 33 Hewan, Terbanyak Orangutan”, Katadata, September 2026.



















