Metode Belajar Gelar Karya Bikin Siswa SKI Nufa Makin Kompak dan Percaya Diri

Survei terhadap delapan siswa SKI Nufa menunjukkan gelar karya paling kuat menumbuhkan kerja sama dan kemampuan menerima kritik. Rasa percaya diri tumbuh, tetapi siswa masih ragu saat harus menjelaskan karya kepada pengunjung.

Avatar Redaksi

5 menit baca

Gelar Karya Pelajar SKI NUFA di Desa Cempaka, Kecamatan Bumijawa, Kabupaten Tegal, mampu membangun kepercayaan diri anak. Sumber: SKI NUFA
Gelar Karya Pelajar SKI NUFA di Desa Cempaka, Kecamatan Bumijawa, Kabupaten Tegal, mampu membangun kepercayaan diri anak. Sumber: SKI NUFA

Kalawaca.com – Kegiatan belajar dengan metode gelar karya atau pamer karya di Sanggar kreasi Inovasi Nurul fatihah (SKI Nufa) ternyata efektif menumbuhkan rasa keberanian dan kepercayaan diri siswa. Itu terlihat dari survei Yayasan Cahaya Guru (YCG) sederhana yang diisi delapan siswa pada 21–24 Oktober 2026. Rata-rata skor kemampuan yang mereka laporkan mencapai 3,97 dari skala 5. Sebanyak 80 persen jawaban menyatakan “setuju” atau “sangat setuju” bahwa kemampuan mereka bertambah setelah ikut gelar karya.

Survei ini mengukur delapan kompetensi, yaitu kreativitas, komunikasi, kepercayaan diri, kolaborasi, berpikir kritis, tanggung jawab, pemahaman materi, dan literasi digital. Setiap kompetensi diukur dengan dua pernyataan. Siswa juga diminta menceritakan pengalaman mereka lewat tujuh pertanyaan terbuka. Seluruh responden adalah siswa kelas 10 hingga 12 yang sudah mengikuti gelar karya sedikitnya dua kali. Sebagian besar dari mereka menampilkan karya tulis, seperti puisi dan majalah dinding.

Menumbuhkan kerja sama tim pelaksana  

Kolaborasi dan berpikir kritis meraih skor tertinggi, sama-sama 4,31. Dua pernyataan dengan skor paling tinggi adalah “bisa menerima kritik dan memakainya untuk memperbaiki karya” (4,50) dan “bisa bekerja sama dengan teman” (4,38). Kedelapan siswa setuju dengan kedua pernyataan itu.

Hasil ini menarik karena tujuh dari delapan siswa membuat karyanya sendiri. Kerja sama justru tumbuh saat mereka menyiapkan acara bersama, yang biasanya dimulai beberapa minggu sebelumnya.

“Tumbuhlah kebersamaan saya dengan teman-teman. Saya dan teman saya menjadi lebih bisa diajak berkompromi dan bermusyawarah bersama.”

Siswi kelas 11

Siswa lain mengaku belajar menerima perbedaan pendapat dan lebih sabar menghadapi sifat orang lain. Ada juga yang merasa lebih menghargai teman-temannya.

Gelar Karya Pelajar SKI NUFA di  Desa Cempaka, Kecamatan Bumijawa, Kabupaten Tegal, mampu membangun kepercayaan diri anak. Sumber: SKI NUFA
Gelar Karya Pelajar SKI NUFA di Desa Cempaka, Kecamatan Bumijawa, Kabupaten Tegal, mampu membangun kepercayaan diri anak. Sumber: SKI NUFA

Berani tampil, meskipun merasa belum mahir

Survei ini juga menemukan hal yang tampak bertolak belakang. Dalam cerita mereka, semua siswa menyebut rasa percaya diri yang bertambah, dan tujuh siswa menyebut kemampuan berbicara di depan umum. Namun, skor kedua kompetensi itu justru termasuk yang terendah: 3,94 untuk kepercayaan diri dan 3,56 untuk komunikasi.

Jawaban siswa memberi petunjuk. Banyak dari mereka merasa mulai berani, tetapi belum merasa mahir. Pernyataan dengan skor paling rendah adalah “bisa menjawab pertanyaan pengunjung tentang karya saya”, yaitu 3,38. Hanya separuh siswa yang setuju dengan pernyataan itu.

“Meskipun masih belibet dan tidak terstruktur, setidaknya saya punya mental untuk menghadapi itu.”

Siswi kelas 12

Rasa takut tampil menjadi tantangan terbesar, disebut lima dari delapan siswa. Mereka khawatir ditertawakan, karyanya dianggap kurang bagus, atau dinilai oleh orang yang lebih berpengalaman. “Tantangan saat membuat karyanya sih nggak ada yang berat, tapi yang berat cuma menampilkan karya kita,” tulis seorang siswa kelas 12.

Gelar Karya Pelajar SKI NUFA di  Desa Cempaka, Kecamatan Bumijawa, Kabupaten Tegal, mampu membangun kepercayaan diri anak. Sumber: SKI NUFA
Gelar Karya Pelajar SKI NUFA di Desa Cempaka, Kecamatan Bumijawa, Kabupaten Tegal, mampu membangun kepercayaan diri anak. Sumber: SKI NUFA

Hal yang masih perlu diperkuat: keterkaitan materi pelajaran dan literasi digital

Kompetensi akademik mendapat nilai paling rendah. Pemahaman materi meraih skor 3,62, dan literasi digital 3,75. Kedua kompetensi itu juga hampir tidak muncul dalam cerita siswa. Ini menandakan gelar karya di SKI Nufa lebih kuat sebagai ruang tumbuh pribadi dan sosial daripada sebagai sarana memperdalam materi pelajaran.

Manajemen waktu juga perlu diperhatikan. Siswa menilai kemampuan membagi waktu mereka cukup baik (4,00). Namun, dua siswa mengaku sering menunda dan mengerjakan karya di jam-jam terakhir. Salah satunya bahkan memakai kecerdasan buatan (AI) untuk menyelesaikan karya dan teks penjelasannya karena waktu persiapan mepet.

Saran dari siswa

Para siswa juga menyampaikan saran untuk gelar karya berikutnya. Ada yang meminta acara tidak digelar malam hari, karena karya seperti gambar dan lukisan tidak terlihat jelas. Ada yang mengajak teman-temannya memperluas jangkauan audiens karena acara terasa sepi. Siswa lain menyarankan agar persiapan lebih fokus pada karya daripada dekorasi, serta memperbanyak referensi dan ide sejak awal.

Seorang siswi kelas 11 juga menitipkan pesan untuk penonton: “Harus lebih percaya diri, jangan takut salah, tetap berusaha. Dan untuk penontonnya, jadilah pendengar yang baik.”

Karena respondennya hanya delapan siswa yang semuanya sudah berpengalaman, hasil survei ini lebih tepat dibaca sebagai gambaran awal. Meski begitu, temuannya memberi arah yang jelas. Gelar karya berikutnya bisa ditambah latihan menjelaskan karya dan menjawab pertanyaan, jadwal persiapan bertahap, serta kaitan yang lebih kuat antara karya dan materi belajar.

Direktur Eksekutif Yayasan Cahaya Guru, Muhammad Mukhlisin, menyatakan bahwa survei ini menunjukkan bahwa metode pembelajaran gelar karya di SKI Nufa ini mampu menjadi ruang belajar yang membangun kepercayaan diri anak.

“Yang paling menggembirakan, siswa belajar bekerja sama dan menerima kritik. Itu kemampuan yang sulit diajarkan lewat ceramah di kelas. Anak-anak belajar menghargai pendapat teman, bermusyawarah, dan memperbaiki karyanya dari masukan orang lain,” ujarnya.

Mukhlisin juga melihat rasa percaya diri siswa sedang tumbuh. Banyak siswa bercerita bahwa mereka awalnya takut naik panggung, lalu perlahan berani tampil. “Mereka sudah melewati langkah pertama yang paling berat, yaitu berani. Tugas kita sekarang adalah mendampingi mereka supaya makin terampil menjelaskan karyanya dan percaya diri menjawab pertanyaan pengunjung,” katanya.

Ia berharap temuan ini menjadi bahan refleksi bagi pendidik untuk mengembangkan gelar karya ke depan. Misalnya, dengan menyiapkan jadwal persiapan yang bertahap, memberi latihan presentasi sebelum acara, dan mengaitkan karya siswa lebih erat dengan materi pelajaran. “Gelar karya adalah cara sekolah mempercayai anak-anak. Saat mereka dipercaya untuk tampil, mereka belajar memercayai diri sendiri,” tuturnya.

Menemukan kekeliruan? Ajukan koreksi atau hak jawab.