PALANGKA RAYA, KALAWACA.COM — Dinas Pendidikan Kalimantan Tengah membatalkan bantuan program Sekolah Aman Asap yang direncanakan untuk Sekolah Khusus Negeri 1 Palangka Raya, setelah meminta sekolah menghentikan kerja sama.
Program tersebut diinisiasi oleh Yayasan Huma Inisiatif Indonesia (Humanies Project) dengan tujuan menyediakan fasilitas penyejuk udara dan mesin pembersih udara di ruang kelas. Menurut Dinas Pendidikan, keputusan pembatalan diambil setelah perangkat‑perangkat tersebut sudah terpasang, namun pihaknya menilai kerja sama belum memenuhi kriteria yang ditetapkan.
Alasan Dinas Pendidikan
Dinas Pendidikan Kalimantan Tengah menyatakan bahwa instalasi AC dan alat pembersih udara memang sudah selesai dipasang, namun proses koordinasi antara yayasan, sekolah, dan dinas belum selesai secara administratif. “Kita perlu memastikan semua prosedur terpenuhi sebelum bantuan dapat dilanjutkan,” kata perwakilan Dinas Pendidikan dalam pernyataan tertulis.
Selain itu, dinas menekankan pentingnya kesesuaian program dengan kebijakan internal serta standar keamanan yang berlaku di sekolah khusus. Menurut kebijakan internal, setiap program eksternal harus melalui evaluasi menyeluruh sebelum diimplementasikan secara penuh.
Reaksi Sekolah dan Yayasan
Kepala Sekolah Khusus Negeri 1 Palangka Raya mengungkapkan kekecewaannya atas keputusan tersebut. Ia menyatakan bahwa fasilitas yang telah dipasang diharapkan dapat meningkatkan kualitas belajar bagi siswa, terutama dalam mengurangi paparan asap rokok di lingkungan sekolah.
Yayasan Huma Inisiatif Indonesia juga menyampaikan rasa terkejutnya atas pembatalan mendadak. “Kami telah menyiapkan peralatan dan tenaga ahli untuk memastikan ruang kelas menjadi lingkungan yang lebih sehat,” ujar juru bicara yayasan dalam email kepada media.
Meski demikian, kedua pihak berjanji akan terus mencari solusi bersama. Dinas Pendidikan menegaskan bahwa dialog lanjutan akan diadakan untuk meninjau kembali persyaratan kerja sama, sementara yayasan berkomitmen menyesuaikan programnya agar sesuai dengan regulasi dinas.
Kasus ini menambah deretan dinamika program kesehatan sekolah di Indonesia, di mana upaya menciptakan lingkungan belajar bebas asap masih menghadapi tantangan birokrasi dan koordinasi lintas lembaga. Pengamat pendidikan menilai bahwa keberhasilan program serupa sangat bergantung pada sinergi antara pemerintah, lembaga swasta, dan pihak sekolah.
Artikel ini disusun berdasarkan pemberitaan Mengapa Disdik Kalteng Membatalkan Bantuan Sekolah Aman Asap (tempo.co, 4 November 2026).




