JAKARTA, KALAWACA.COM — Rata-rata orang hanya bertahan sekitar 47 detik menatap satu layar sebelum berpindah ke layar atau aplikasi lain. Dua dekade lalu, angkanya masih sekitar dua setengah menit. Pergeseran itu kerap dirangkum dalam satu istilah populer: popcorn brain, otak yang perhatiannya meletup dan melompat ke sana kemari seperti jagung di wajan panas.
Istilah ini ramai dipakai di media sosial, sering sebagai lelucon tentang diri sendiri. Namun, di baliknya ada pertanyaan serius yang kini mulai dijawab para peneliti: apakah kebiasaan menggulir layar, terutama video pendek, benar-benar mengubah kemampuan kita untuk fokus? Jawabannya penting bagi siapa saja yang belajar, mengajar, bekerja, atau membesarkan anak di tengah 180 juta identitas pengguna media sosial di Indonesia.
Bukan diagnosis medis
Istilah popcorn brain diperkenalkan pada 2011 oleh David M. Levy, peneliti dari University of Washington, Amerika Serikat. Ia memakainya untuk menggambarkan otak yang sudah begitu terbiasa dengan rangsangan terus-menerus dari aktivitas daring sehingga kehidupan luring, yang ritmenya lebih lambat, terasa tidak menarik.
Popcorn brain bukan diagnosis medis atau psikiatri resmi. Para klinisi memakainya sebagai cara menggambarkan sekumpulan keluhan: sulit berkonsentrasi dalam waktu lama, perhatian yang cepat berpindah, dorongan terus-menerus mencari rangsangan baru, gelisah ketika tidak memegang gawai, dan sulit mengingat informasi yang baru dibaca.
Karena bukan kategori klinis, keluhan semacam ini perlu dibedakan dari gangguan yang memiliki kriteria diagnosis, seperti ADHD, gangguan kecemasan, atau depresi. Jika keluhan berat dan mengganggu kehidupan sehari-hari, pemeriksaan oleh psikolog atau psikiater tetap diperlukan.
Dari 150 detik ke 47 detik
Angka 47 detik berasal dari rangkaian penelitian Gloria Mark, profesor emerita informatika di University of California, Irvine. Sejak awal 2000-an, Mark dan rekan-rekannya merekam aktivitas komputer para pekerja untuk mengukur berapa lama perhatian bertahan pada satu layar sebelum berpindah.
Pada studi yang diterbitkan 2004, rata-ratanya sekitar 150 detik. Pada 2012, angkanya turun menjadi sekitar 75 detik. Studi-studi pada rentang 2016 hingga 2020 menunjukkan rata-rata 47 detik, dengan median 40 detik. Artinya, separuh dari seluruh perpindahan perhatian yang diamati terjadi dalam waktu kurang dari 40 detik.
Ada dua hal yang perlu dicatat dari temuan ini. Pertama, angka itu dirangkai dari beberapa studi dengan kelompok peserta berbeda, bukan satu kelompok yang diikuti selama 20 tahun. Kedua, yang diukur adalah lama perhatian pada satu layar, bukan “rentang perhatian” dalam pengertian klinis. Mark sendiri menemukan bahwa sekitar separuh gangguan perhatian berasal dari diri sendiri: kita berhenti mengerjakan sesuatu untuk memeriksa surel, mencari informasi, atau membuka media sosial tanpa ada notifikasi yang memanggil.
Yang ditemukan riset terbaru
Bukti paling luas sejauh ini datang dari meta-analisis yang terbit di jurnal Psychological Bulletin milik American Psychological Association pada September 2025. Tim yang dipimpin Lan Nguyen dari Griffith University, Australia, menggabungkan 71 studi dengan total 98.299 partisipan untuk melihat hubungan antara penggunaan video pendek, seperti TikTok, Instagram Reels, dan YouTube Shorts, dengan fungsi kognitif dan kesehatan mental.
Hasilnya, penggunaan video pendek yang lebih tinggi berkaitan dengan fungsi kognitif yang lebih rendah, dengan kekuatan hubungan moderat (koefisien korelasi r = −0,34). Hubungan terkuat ditemukan pada atensi (r = −0,38) dan kontrol inhibisi (r = −0,41), yaitu kemampuan menahan diri dari dorongan sesaat dan tetap pada tugas.
Penggunaan berat juga berkaitan dengan tingkat stres, kecemasan, dan depresi yang lebih tinggi, kualitas tidur yang lebih buruk, rasa kesepian, serta kesejahteraan yang lebih rendah. Pola ini serupa pada remaja dan orang dewasa. Sebaliknya, meta-analisis tersebut tidak menemukan hubungan yang signifikan dengan citra tubuh maupun harga diri.
Temuan yang paling relevan bagi pembaca justru terletak pada cara penggunaan diukur. Lamanya waktu menonton hanya berhubungan lemah dengan kognisi (r = −0,20). Hubungan yang lebih kuat muncul pada pola penggunaan yang menyerupai adiksi, seperti sulit berhenti, terus memikirkannya, atau penggunaan yang mengganggu kegiatan lain (r = −0,37 untuk kognisi dan r = −0,32 untuk kesehatan mental). Dengan kata lain, yang paling bermasalah bukan sekadar berapa jam seseorang menonton, melainkan seberapa kompulsif ia menggulir.
Sebab-akibat belum tuntas
Meski polanya konsisten, temuan ini belum membuktikan bahwa video pendek menyebabkan perhatian melemah. Sebagian besar studi yang dianalisis bersifat korelasional dan hanya memotret satu titik waktu. Para penulisnya mengakui arah hubungan bisa terbalik: orang yang sudah mengalami kesulitan konsentrasi atau kecemasan mungkin lebih mudah terseret ke aplikasi yang memberi hiburan cepat, atau memakainya untuk meredakan tekanan. Hanya sebagian kecil studi yang memisahkan penggunaan video pendek dari penggunaan media sosial secara umum.
Kehati-hatian juga diperlukan terhadap klaim yang lebih bombastis. Sejumlah media menyebut dampak video pendek setara atau lebih buruk daripada rokok, atau menyebut brain rot sebagai sindrom saraf. Klaim seperti itu tidak tertulis dalam meta-analisis tersebut.
Contoh lain soal pentingnya pengujian ulang adalah efek brain drain. Studi Adrian Ward dan rekan pada 2017 menyimpulkan bahwa sekadar meletakkan ponsel di meja sudah mengurangi kapasitas berpikir. Namun, replikasi langsung yang dipublikasikan di jurnal Acta Psychologica pada 2022 tidak menemukan efek tersebut. Kajian lain menilai efeknya ada, tetapi kecil.
Bukti dari eksperimen: dua minggu tanpa internet seluler
Bukti sebab-akibat yang lebih kuat datang dari uji acak terkontrol yang terbit di jurnal PNAS Nexus pada Februari 2025. Tim yang dipimpin Noah Castelo dari University of Alberta, Kanada, meminta 467 peserta dewasa memasang aplikasi yang memblokir seluruh akses internet di ponsel mereka selama dua minggu. Telepon dan pesan singkat tetap berfungsi, begitu pula internet di komputer.
Selama masa pemblokiran, rata-rata waktu layar peserta turun dari 314 menit menjadi 161 menit per hari. Peserta melaporkan kesehatan mental dan kesejahteraan yang lebih baik, dan kemampuan mempertahankan perhatian yang diukur lewat tes komputer juga membaik. Menurut para peneliti, perbaikan atensi itu setara dengan menghapus sekitar sepuluh tahun penurunan yang lazim terjadi seiring usia. Sebanyak 91 persen peserta membaik pada setidaknya satu dari tiga ukuran tersebut.
Perbaikan itu sebagian dijelaskan oleh perubahan cara peserta menghabiskan waktu. Tanpa internet di ponsel, mereka lebih banyak bertemu orang secara langsung, berolahraga, dan berada di alam terbuka. Studi ini juga menunjukkan betapa sulitnya mengurangi ketergantungan: dari seluruh peserta, hanya sekitar 57 persen yang memasang aplikasi pemblokir, dan hanya sekitar seperempat yang bertahan penuh selama dua minggu.
Konteks Indonesia
Laporan Digital 2026: Indonesia yang disusun We Are Social dan Meltwater mencatat 180 juta identitas pengguna media sosial per Oktober 2025, setara 62,9 persen populasi dan naik 26 persen dibanding tahun sebelumnya. TikTok dan WhatsApp menjadi platform dengan pengguna aktif terbanyak.
Survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) 2026, sebagaimana dirangkum GoodStats, menunjukkan 43,4 persen warganet menghabiskan 4–6 jam per hari untuk mengakses internet. Untuk media sosial, kelompok terbesar menggunakan 1–2 jam per hari (44,9 persen), disusul 2–3 jam per hari (37,9 persen).
Di sisi kebijakan, Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Pelindungan Anak, yang dikenal sebagai PP Tunas, efektif berlaku sejak 28 Maret 2026 dengan aturan pelaksana Peraturan Menteri Komunikasi dan Digital Nomor 9 Tahun 2026. Aturan ini menunda akses anak di bawah 16 tahun ke platform digital berisiko tinggi, termasuk media sosial. Kementerian Komunikasi dan Digital menyebut sekitar lima juta akun anak telah diturunkan atau dibatasi aksesnya, sekaligus mengakui masih banyak anak yang memalsukan usia saat membuat akun.
Hingga kini, penelitian di Indonesia yang secara khusus mengukur hubungan penggunaan video pendek dengan atensi masih terbatas. Padahal, data semacam itu dibutuhkan untuk menilai apakah kebijakan pembatasan usia dan program literasi digital di sekolah benar-benar menjawab persoalan.
Apa yang bisa dilakukan
Kabar baiknya, temuan eksperimen menunjukkan bahwa perhatian dapat dilatih kembali. Para peneliti tidak menganjurkan meninggalkan teknologi sepenuhnya. Gloria Mark, misalnya, menilai aktivitas ringan seperti menonton video lucu boleh menjadi jeda, asalkan diberi batas waktu agar tidak berubah menjadi jebakan berjam-jam. Beberapa langkah yang didukung riset antara lain:
- Tetapkan tujuan yang terlihat. Perhatian bekerja mengikuti tujuan. Menuliskan tugas utama dan menempatkannya di depan mata membantu kita kembali ketika tergoda berpindah.
- Kenali ritme perhatian sendiri. Kerjakan tugas terberat pada jam ketika fokus sedang memuncak, dan ambil jeda sebelum kelelahan, bukan sekadar mengikuti pengatur waktu yang sama untuk semua orang.
- Kurangi akses internet di ponsel pada jam tertentu. Mematikan data seluler atau memakai aplikasi pemblokir pada jam kerja, belajar, atau menjelang tidur adalah bentuk ringan dari intervensi yang terbukti efektif dalam uji PNAS Nexus.
- Matikan notifikasi yang tidak penting. Notifikasi memicu perpindahan perhatian yang tidak direncanakan.
- Ganti dengan aktivitas luring. Berjalan kaki, berolahraga, atau bertemu orang secara langsung menjadi jalur utama perbaikan dalam studi pemblokiran internet seluler.
Bagi orang tua dan pendidik, temuan meta-analisis memberi pesan yang lebih spesifik: perhatikan bukan hanya berapa lama anak memegang gawai, melainkan apakah ia masih bisa berhenti ketika diminta, tidur cukup, dan menjalani kegiatan lain tanpa gelisah. Pertanyaan-pertanyaan itu kerap lebih bermakna daripada angka waktu layar semata.
Dokumen dan Data Rujukan
- Nguyen, L., dkk. (2025). Feeds, feelings, and focus: A systematic review and meta-analysis examining the cognitive and mental health correlates of short-form video use. Psychological Bulletin, 151(9), 1125–1146.
- Castelo, N., Kushlev, K., Ward, A. F., Esterman, M., & Reiner, P. B. (2025). Blocking mobile internet on smartphones improves sustained attention, mental health, and subjective well-being. PNAS Nexus, 4(2).
- Ruiz Pardo, A. C., & Minda, J. P. (2022). Reexamining the “brain drain” effect: A replication of Ward et al. (2017). Acta Psychologica, 230.
- Digital 2026: Indonesia, DataReportal.
- Survei Penetrasi Internet APJII.




