Pameran 2.000 Buku Lawas di Medan, KSBN Usul Panitia Data Buku Tertua

Sekitar 2.000 buku lawas dipamerkan di Gedung Juang 45 Medan pada 4–8 November 2026. KSBN Sumut meminta panitia mendata buku tertua dan mendigitalkan judul langka.

Avatar Redaksi

2 menit baca

Gapura selamat datang Kota Medan, Sumatera Utara
Ilustrasi: gapura selamat datang Kota Medan (foto arsip). Foto: Christian Advs Sltg/Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0.

MEDAN, KALAWACA.COM — Sekitar 2.000 buku lawas tentang sejarah Indonesia, perjuangan kemerdekaan, dan kebudayaan dipamerkan di Gedung Juang 45, Medan, Sumatera Utara, pada 4–8 November 2026. Pameran yang digagas Dewan Harian Daerah Badan Pembudayaan Kejuangan 45 (DHD 45) Sumatera Utara itu diharapkan tidak berhenti sebagai ajang nostalgia.

Ketua Komite Seni Budaya Nusantara (KSBN) Sumatera Utara Soekirman, mantan Bupati Serdang Bedagai, mengusulkan panitia menginventarisasi buku tertua yang dipamerkan. Dengan begitu, publik bisa mengetahui judul-judul yang pernah terbit di Medan.

“Pameran buku lawas itu agar panitia bisa menginventarisasi buku tertua agar diketahui masyarakat luas,” ujar Soekirman, seperti dikutip ANTARA, Rabu (4/11/2026).

Jejak Medan sebagai kota penerbitan

Soekirman mengingatkan bahwa sejak masa kolonial Medan dikenal sebagai kota penerbitan surat kabar, buku, dan majalah. Ia menyebut nama penulis seperti Amir Hamzah, Willem Iskander, dan Basyral Hamidi Harahap, serta penerbit dan surat kabar seperti Percetakan Indonesia, Hasmar, Maju Medan, Bin Harun, Fa. Harris, Monora, Deli Varekam, dan Pewarta Deli.

Ia berharap pameran ini berlanjut dan menggandeng perpustakaan daerah untuk mengalihkan buku-buku langka ke format digital. Langkah itu dinilai penting agar judul-judul terbitan Medan yang kini sulit ditemukan tetap terarsip.

Sejarah dari tangan pertama

Ketua DHD 45 Sumatera Utara Mayjen TNI (Purn) Muhammad Hasyim mengatakan, pameran memberi kesempatan bagi generasi muda melihat sejarah langsung dari bahan bacaan pada zamannya.

“Karena banyak buku yang dipamerkan merupakan jauh di masa generasi saat ini,” kata Hasyim.

Bagi gerakan literasi, usulan inventarisasi dan digitalisasi itu menyentuh persoalan yang lebih luas: buku lama yang rapuh dan tersebar di koleksi pribadi mudah hilang bila tidak didata dan disimpan dalam bentuk yang bisa diakses publik.

Referensi

  1. M. Sahbainy Nasution, “KSBN usulkan pameran buku lawas DHD 45 inventarisasi buku tertua“, ANTARA Sumut, 5 November 2026.
  2. “DHD 45 Sumut hadirkan literasi kebangsaan lewat pameran buku lawas” (video), ANTARA Sumut, 4 November 2026.

Menemukan kekeliruan? Ajukan koreksi atau hak jawab.