JAKARTA, KALAWACA.COM — Bayangkan seorang calon gubernur yang setiap janji kampanyenya berubah menjadi pengakuan jujur di depan kamera. Premis itulah yang diusung Bapak Paling Jujur, film drama komedi garapan Fajar Nugros yang tayang di bioskop sejak 15 Oktober 2026.
Di negeri yang publiknya akrab dengan baliho, pencitraan, dan potongan video politisi yang viral, gagasan ini terasa dekat. Pertanyaannya, apakah film ini berhasil mengubah kedekatan itu menjadi satire yang menggigit?
Kutukan nenek di tengah kampanye
Andovi da Lopez memerankan Jonas Prakoso, politikus muda yang pandai merangkai citra dan tengah berkampanye menjadi gubernur. Di tengah perjalanan, ia terkena kutukan dari neneknya: ia tidak bisa lagi berbohong. Pernyataan yang dirancang tim pemenangan sebagai janji politik berubah menjadi pengakuan yang tidak pernah direncanakan.
Akibatnya berantai. Hubungan dengan tim sukses retak, lawan politik memanfaatkan situasi, dan rumah tangganya dengan sang istri, Vanny, ikut goyah. Film ini juga menampilkan Claresta Taufan, Benedictus Siregar, dan Soleh Solihun.
Premisnya bukan hal baru. Gagasan serupa pernah diangkat film Brasil O Candidato Honesto (2014) dan film Korea Selatan Honest Candidate (2020). Versi Indonesia diproduksi Cahaya Pictures bersama Studio Antelope.
Kritikus terbelah
Penerimaan kritikus terhadap film ini beragam. Sejumlah ulasan memuji keberanian film menjadikan realitas politik sebagai bahan tertawaan. Ulasan di Yoursay Suara.com menilai Andovi tampil total, terutama saat menampilkan kepanikan Jonas ketika otaknya ingin berbohong tetapi mulutnya berkata jujur.
Ulasan lain lebih kritis. IDN Times menilai film ini terlalu sibuk mengejar satu lelucon ke lelucon berikutnya, sehingga lebih mirip parodi daripada komedi politik yang berkembang. Permainan komedi Andovi pun dinilai tidak konsisten. Layar.id memberi nilai 6,5 dari 10 dan menyebut film ini masih terlalu bergantung pada fenomena politik yang sudah akrab di masyarakat.
Jadwalnonton mencatat film ini mencoba mengolah terlalu banyak isu sekaligus, dari kebohongan politikus, korupsi, peran jurnalisme, hingga konspirasi. Penceritaannya dinilai kerap membingungkan, dan sebagai satire, film ini dianggap terlalu menyederhanakan masalah yang sebenarnya kompleks.
Satire yang berhenti di permukaan
Benang merah kritik itu sama: satire politik terasa tajam ketika ia membongkar pola dan kepentingan di balik pencitraan, bukan sekadar menertawakan politisi yang keceplosan. Ketika humor digerakkan terutama oleh referensi meme dan kejadian viral, cerita berisiko menjadi rangkaian sketsa yang disatukan satu premis.
Fajar Nugros sendiri menegaskan filmnya tidak dibuat untuk menyindir pihak tertentu, melainkan mengajak penonton melihat kembali arti kejujuran sehari-hari. “Jadi memang berat ternyata jujur,” katanya seusai pratayang di Jakarta, Selasa (6/10/2026). Ia berharap penonton keluar dari bioskop dengan keinginan untuk jujur pada diri sendiri.
Relevan, meski belum tuntas
Terlepas dari kekurangannya, kehadiran Bapak Paling Jujur layak dicatat. Film arus utama yang terang-terangan menertawakan budaya pencitraan politik masih jarang di bioskop Indonesia. Bagi penonton yang mengikuti dinamika politik di media sosial, banyak adegan akan terasa akrab. Bagi yang mencari kritik lebih dalam, film ini mungkin lebih berguna sebagai pemantik diskusi daripada jawaban.
Informasi Film
- Judul: Bapak Paling Jujur
- Sutradara: Fajar Nugros
- Produksi: Cahaya Pictures dan Studio Antelope
- Pemeran: Andovi da Lopez, Claresta Taufan, Benedictus Siregar, Soleh Solihun
- Durasi: 103 menit; klasifikasi usia R13+
- Tayang di bioskop Indonesia: 15 Oktober 2026
Catatan redaksi: ulasan ini disusun berdasarkan materi resmi produksi, pernyataan pembuat film, dan penilaian kritikus yang tercantum di bagian Referensi.




