Ulasan Film Gak Ada Matinya: Komedi Gelap tentang Utang KPR, Asuransi, dan Ayah yang Hidup Lagi

Film MD Pictures arahan Etienne Caesar menertawakan krisis keuangan kelas pekerja lewat kisah anak yang hendak mencairkan asuransi ayahnya, yang ternyata hidup kembali.

Avatar Redaksi

3 menit baca

Ilustrasi film Gak Ada Matinya
Ilustrasi film Gak Ada Matinya

JAKARTA, KALAWACA.COM — Binsar kehilangan pekerjaan, cicilan rumahnya menunggak, dan ayah yang tidak pernah akur dengannya baru saja meninggal. Lalu datang kabar yang terdengar seperti jalan keluar: sang ayah meninggalkan polis asuransi jiwa senilai Rp2 miliar. Masalahnya, sang ayah ternyata hidup lagi.

Dari premis itulah Gak Ada Matinya, film drama komedi produksi MD Pictures, bergerak. Film arahan Etienne Caesar ini tayang di bioskop sejak Kamis (5/11/2026).

Tragedi sebagai bahan tertawa

Oki Rengga memerankan Binsar, sementara Mathias Muchus memerankan sang ayah, Luhut. Fedi Nuril tampil sebagai Fahri, penyelidik asuransi yang mencium kejanggalan di balik klaim kematian Luhut. Ghita Bhebhita memerankan Lisa, istri Binsar, dengan dukungan Mikha Tambayong, Lolox, Yoshi Sudarso, Benidictus Siregar, Arie Kriting, dan Jared Ali.

Etienne menyebut yang membedakan film ini dari drama komedi lain adalah ceritanya yang berangkat dari tragedi dan kematian, serta isu yang dekat tetapi jarang diangkat. Produser Muhadkly Acho menilai film ini tidak hanya mengajak tertawa, tetapi juga merenungkan betapa ringkih dan getirnya hidup.

Bagi Oki, kisah Binsar adalah realitas banyak kepala keluarga muda. Binsar dibesarkan orang tua yang tidak sempurna, punya luka dengan ayahnya, dan bertekad masalah itu tidak terulang pada anak dan istrinya.

Nuansa Medan yang kental

Salah satu warna khas film ini adalah latar budaya Medan dan Batak. Atmosfer sepak bola PSMS Medan hadir dalam cerita, termasuk adegan menonton bersama pertandingan klub tersebut. Oki, yang pernah menjadi kiper PSMS sebelum menekuni seni peran, menyebut adegan itu lebih dari sekadar akting. Sebelum tayang nasional, film ini lebih dulu diputar dalam pemutaran khusus di Medan, Binjai, dan Siantar pada 1–4 November 2026.

Lambat panas, lalu meledak

Ulasan di blog film Movfreak mencatat film ini butuh waktu cukup lama sebelum benar-benar menjelajahi premis uniknya. Namun, begitu dimulai, tawa sulit dibendung. Para pemain dinilai berjasa besar, termasuk Mathias Muchus dalam adegan nonton bareng pertandingan PSMS yang disebut gila.

Menurut ulasan yang sama, naskah Ridho Brado cerdik menyambungkan lelucon-lelucon besar menjadi reaksi berantai. Hal remeh, seperti keinginan anak Binsar, Riko, untuk ikut les panah, belakangan memicu rentetan kekacauan lain. Kelemahannya ada pada keseimbangan drama dan komedi. Perubahan hubungan segitiga Luhut, Binsar, dan tokoh Viona dari saling jengkel menjadi rukun dinilai digerakkan terburu-buru, tanpa gradasi yang cukup.

Cermin krisis kelas pekerja

Di balik kekonyolannya, Gak Ada Matinya menyentuh kecemasan yang nyata: kehilangan pekerjaan, utang KPR, dan godaan jalan pintas ketika semua pintu terasa tertutup. Penonton bisa melihat absurditas keputusan Binsar, tetapi juga memahami tekanan yang mendorongnya. Film ini juga menyinggung hubungan ayah dan anak yang renggang, tema yang akrab bagi banyak keluarga.

Bagi penonton yang mencari komedi dengan dilema moral, bukan sekadar lelucon slapstik, film ini layak dipertimbangkan.

Informasi Film

  • Judul: Gak Ada Matinya
  • Sutradara: Etienne Caesar
  • Penulis skenario: Ridho Brado
  • Produser: Manoj Punjabi dan Muhadkly Acho (MD Pictures)
  • Pemeran: Oki Rengga, Mathias Muchus, Fedi Nuril, Ghita Bhebhita, Mikha Tambayong, Lolox, Arie Kriting
  • Durasi: 102 menit; klasifikasi usia remaja
  • Tayang di bioskop Indonesia: 5 November 2026

Catatan redaksi: ulasan ini disusun berdasarkan materi resmi produksi, pernyataan pembuat film, dan ulasan yang tercantum di bagian Referensi.

Menemukan kekeliruan? Ajukan koreksi atau hak jawab.