Menuju Damai Positif

Perdamaian tidak cukup dimaknai sebagai tiadanya perang dan kekerasan. Ahmad Nurcholish menawarkan tiga ikhtiar menuju damai positif: menggali ajaran damai agama, merawat dialog, dan memperluas kerja sama antarumat beragama.

Avatar Ahmad Nurcholish

4 menit baca

Ilustrasi Positive Peace. Sumber: https://rotarydownunder.org/
Ilustrasi Positive Peace. Sumber: https://rotarydownunder.org/

Oleh: Ahmad Nurcholish

Masih banyak yang memahami bahwa perdamaian adalah ketika tiadanya perang, tiada kekerasan, atau tiada konflik di tengah masyarakat. Dalam pandangan Johan Galtung, kondisi seperti itu ia sebut sebagai damai negatif (negative peace). Lantas, bagaimanakah damai positif itu?

Johan Galtung mendefinisikan perdamaian negatif sebagai situasi absennya konflik (conflict) dan kekerasan (violence). Dari permukaan, bisa jadi ini sebuah kondisi yang menyenangkan. Akan tetapi, realitas yang sesungguhnya bisa jadi berbeda. Banyak masyarakat mengalami penderitaan akibat konflik dan kekerasan. Bahkan ketidakadilan kerap menimpa sebagian masyarakat kita.

Oleh karena itu, sembari menjaga kondisi damai negatif tersebut, kita harus memikirkan untuk beranjak ke arah damai positif (positive peace). Perdamaian positif oleh Galtung didefinisikan sebagai absennya kekerasan struktural atau terciptanya keadilan sosial serta terbentuknya suasana harmoni (Globalizing God, 2008: 16).

Apa yang diungkapkan sosiolog asal Norwegia tersebut senada dengan yang disampaikan Robert B. Baowollo, “si vis pacem, para humaniorem solitudinem (jika engkau menghendaki perdamaian, siapkanlah suasana damai sejati dengan cara-cara yang lebih manusiawi)” (IDEA, Maret 2011: 29).

Mengacu pada konsep tersebut, usaha mewujudkan perdamaian tidak hanya untuk mengurangi dan menghilangkan tindak kekerasan semata, tetapi juga ikhtiar untuk mewujudkan rasa tenteram, harmoni, dan damai dalam realitas kehidupan sosial.

Menggali Ajaran Damai Agama

Paling tidak ada tiga ikhtiar yang dapat kita lakukan sebagai usaha menuju damai positif. Pertama, menggali kembali ajaran-ajaran perdamaian di masing-masing agama. Terlalu banyak ajaran tersebut yang dapat kita ungkap kembali. Tak hanya di dalam agama-agama, ajaran itu juga terdapat dalam kebijaksanaan masyarakat (local wisdom).

Islam, misalnya, adalah agama perdamaian. Banyak alasan untuk menyatakan bahwa Islam adalah agama perdamaian. Setidaknya ada tiga alasan, yakni: (1) Islam itu sendiri berarti kepatuhan diri (submission) kepada Tuhan dan perdamaian (peace); (2) salah satu dari nama Tuhan dalam al-asma’ al-husna adalah Yang Mahadamai (al-salam); (3) perdamaian dan kasih sayang merupakan keteladanan yang dipraktikkan oleh Nabi Muhammad SAW.

Dalam bukunya, Al-Quran Kitab Toleransi, Zuhairi Misrawi menambahkan bahwa perdamaian merupakan jantung dan denyut nadi dari agama. Menolak perdamaian merupakan sikap yang bisa dikategorikan sebagai menolak esensi agama dan kemanusiaan (2010: 329).

Itulah misi dan tujuan diturunkannya Islam kepada manusia. Karena itu, Islam diturunkan tidak untuk memelihara permusuhan atau kekerasan di antara umat manusia. Konsepsi dan fakta-fakta sejarah Islam menunjukkan bahwa Islam mendahulukan sikap kasih sayang, keharmonisan, dan kedamaian. Di antara bukti konkret perhatian Islam terhadap perdamaian adalah dirumuskannya Piagam Madinah (al-sahifah al-madinah), Perjanjian Hudaibiyah, dan pakta perjanjian yang lain.

Pada tataran ontologis, agama mana pun pada hakikatnya tidak mengajarkan kekerasan, dan kekerasan itu sendiri bukan bagian integral dari agama. Agama mengajarkan sikap cinta kasih dan keharmonisan dalam hidup. Agama memprioritaskan cara-cara damai dan kemanusiaan dalam bersikap sebagaimana diamanatkan oleh nilai-nilai universal agama itu sendiri.

Merawat Tradisi Dialog

Kedua, tradisi dialog yang sudah dirintis sejak 1970-an oleh sejumlah tokoh dan cendekiawan dari berbagai agama tampaknya mesti kita lanjutkan dan kembangkan. Dialog adalah langkah pertama dari realisasi ajaran agama tentang perdamaian. Dialog juga merupakan cerminan bahwa setiap kita telah mulai membuka diri kepada orang atau kelompok lain yang berbeda.

Selain itu, dialog juga menjadi pintu masuk pertama bagi terjalin eratnya hubungan antarumat beragama. Karena itu, dialog tak hanya dilakukan atau dimotori oleh kalangan elite, seperti tokoh atau pemuka agama, tetapi juga diikuti oleh masyarakat biasa dari berbagai agama dan kepercayaan. Dengan begitu, dialog memiliki semangat kebersamaan yang akan memberikan sumbangan positif terhadap upaya mewujudkan toleransi dan perdamaian.

Tak hanya itu. Dialog juga menjadikan ruang negosiasi sangat terbuka. Dengan begitu, jika salah satu pihak atau berbagai pihak memiliki kebutuhan yang menyangkut agamanya, hal itu dapat dengan mudah dikomunikasikan. Melalui dialog itulah antarumat beragama memahami kebutuhan setiap komunitas atau kelompok agama.

Kerja Sama Antarumat Beragama

Ketiga, ini merupakan lanjutan dari dialog, yakni kerja sama antarumat beragama. Dialog tanpa kerja sama nyata hanya akan membuat hubungan antaragama menjadi “editansil” (ejakulasi dini tanpa hasil) semata. Kerja sama ini tidak hanya dalam bentuk kerja-kerja sosial kemanusiaan belaka, seperti pembuatan posko kemanusiaan bersama atau aksi tanam pohon bersama, tetapi juga kerja sama dalam ranah yang lebih mencerminkan keseriusan adanya hubungan yang sangat baik antarumat beragama.

Salah satu contoh konkretnya adalah saling membantu dalam mempersiapkan perayaan hari-hari besar keagamaan hingga saling membantu dalam menyelesaikan pembangunan rumah ibadah. Betapa menyenangkannya jika ketika umat Kristen tengah membangun gereja, umat agama lain turut membantunya. Begitu pula sebaliknya.

Jika ketiga hal di atas dapat dilakukan, bukan tidak mungkin kondisi damai positif akan segera dapat diwujudkan. Karena itu, ini menjadi pekerjaan rumah besar bagi semua kelompok atau komunitas umat beragama. Kita harus memulainya segera.


Ahmad Nurcholish, Direktur Eksekutif Harmoni Mitra Madania, Sekretaris Jenderal Badan Sosial Lintas Agama (BASOLIA)

Menemukan kekeliruan? Ajukan koreksi atau hak jawab.

Avatar Ahmad Nurcholish