JAKARTA, KALAWACA.COM — Seorang perempuan hanya ingin memasak mi instan tanpa gangguan. Pekerja restoran yang tak pernah diapresiasi menemukan cara untuk membalas. Seorang ibu perlahan tenggelam dalam paranoia setelah kehilangan. Begitulah dunia Hantu Ulang-alik, kumpulan cerpen Ratri Ninditya yang memenangi kategori Kumpulan Cerita Pendek dalam Kusala Sastra Khatulistiwa (KSK) 2026.
Buku terbitan baNANA pada 2025 ini menyisihkan dua nama lain di daftar pendek, yakni Cara Menghadapi Kehilangan karya Yetti A.KA. dan Jose Kecil Dalam Dirimu karya Kaisar Deem.
Bahasa sehari-hari, perspektif tajam
Juri KSK 2026 Martin Suryajaya menilai kumpulan ini memakai bahasa sehari-hari yang bersahaja dan jujur untuk memotret kehidupan perempuan pekerja. Ia menyoroti perspektif yang tajam dan gaya bercerita yang alami. Media Indonesia mencatat bahwa buku ini dinilai kuat dalam mendekatkan cerita pada realitas perempuan pekerja urban serta menyuarakan kelelahan yang hadir dalam kehidupan hari ini.
Ratri mengatakan cerita-cerita dalam buku ini mulai ditulis sejak masa pandemi. Semuanya tumbuh dari perasaan terhimpit, yang kemudian ia sadari berhubungan dengan persoalan yang lebih sistemik. “Jangkar Hantu Ulang-alik adalah perasaan yang belum punya bentuk,” ujarnya dalam pidato penerimaan penghargaan.
Tiga belas cerita, satu benang ironi
Dalam esai di Sivitas Kothèka, Royyan Julian membaca ketiga belas cerpen ini sebagai karya ironi yang konsisten. Menurutnya, Ratri menghindari gaya cerpen koran yang berpanjang-panjang dan sarat pesan sosial. Ia justru membawa realitas hidup yang babak belur ke ruang paling personal tokoh-tokohnya.
Cerpen “Mi Instan” disebut sebagai yang paling bernas. Premisnya sederhana, pertemuan seorang perempuan dengan mantan kekasih dan mantan sahabatnya, tetapi berkembang menjadi krisis eksistensial yang dituturkan dengan nada santai dan sarkastis. “Preloved” mengisahkan persahabatan dua perempuan yang dibangun di atas kenyamanan semata, dan dibaca sebagai kritik atas kehidupan sosial kota.
“Panggung” menghadirkan penari yang harus menyingkir ke desa setelah video pribadinya tersebar, dan mengangkat soal otonomi tubuh. “Anarkocheng”, yang disebut paling epik, mengisahkan penjahit terpinggirkan yang dijadikan kambing hitam oleh komunitas intoleran. “Film Sadis” memotret ibu yang percaya teori konspirasi kiamat, cermin generasi yang kebanjiran informasi.
Kekuatan sekaligus risiko
Royyan mencatat adanya disonansi yang produktif: tema berat disampaikan dengan bahasa ringan dan informal. Ironinya bekerja tidak hanya pada pilihan kata, tetapi juga pada struktur kalimat dan cerita. Ia membandingkan suara para narator dengan Holden Caulfield dan tokoh-tokoh Budi Darma.
Namun, ia juga menyiratkan bahwa ironi berisiko menjadi repetitif ketika banyak cerita berbagi pola yang mirip. Ia pun mempertanyakan judul buku, karena tidak ada satu pun cerpen di dalamnya yang berjudul “Hantu Ulang-alik”.
Mungkin justru di situ maknanya. Tokoh-tokoh Ratri, seperti para komuter yang setiap hari berangkat dan pulang dengan kereta yang sama, terus berulang-alik mencari kebahagiaan yang langka. Mereka hadir seperti hantu: ada, tetapi jarang benar-benar dilihat.
Tentang penulis
Ratri Ninditya adalah peneliti dan penulis puisi serta cerpen yang banyak menjelajahi keterasingan dan trauma perempuan kelas pekerja. Karyanya pernah terbit dalam Rusunothing, The Book of Jakarta, dan sejumlah antologi lain.
Informasi Buku
- Judul: Hantu Ulang-alik
- Penulis: Ratri Ninditya
- Penerbit: baNANA, 2025
- Isi: 13 cerita pendek
- Penghargaan: Pemenang kategori Kumpulan Cerita Pendek, Kusala Sastra Khatulistiwa 2026
Catatan redaksi: ulasan ini disusun berdasarkan laporan dewan juri, pernyataan penulis, pemberitaan, dan esai kritik yang tercantum di bagian Referensi.




