JAKARTA, KALAWACA.COM — Pada 6 Oktober 2026, National Book Foundation di Amerika Serikat mengumumkan lima finalis National Book Award kategori Sastra Terjemahan. Salah satunya Night of a Thousand Hells karya Intan Paramaditha, terjemahan Inggris dari novel Malam Seribu Jahanam. Menurut Gramedia, inilah pertama kalinya karya terjemahan dari bahasa Indonesia menembus nominasi di kategori tersebut.
Novel ini dipilih dari 159 buku yang diajukan. Empat finalis lainnya berasal dari Norwegia, Spanyol, Senegal, dan Suriah. Pemenangnya akan diumumkan di New York pada 18 November 2026.
Tiga saudari dan satu ledakan
Novel ini dibuka dengan peristiwa yang mengguncang: anak bungsu dari tiga bersaudara perempuan menjadi pelaku bom bunuh diri. Setelah itu, dua saudari yang tersisa dipaksa menghadapi kebenaran keras yang lama terkubur dalam sejarah keluarga mereka.
Penerbitnya menggambarkan kisah ini sebagai cerita tiga saudari dengan peran berbeda: si perawat, si pengelana, dan si pengantin. Latar ceritanya bergerak antara Amerika Serikat, Indonesia, dan Australia.
Yang membuat novel ini menonjol adalah cara Intan meramu bahannya. Europa Editions, penerbit edisi Inggrisnya, menyebut novel ini memadukan unsur gotik, cerita rakyat Indonesia, mistisisme Islam, horor, dan perhitungan politik. Gramedia menyorotinya sebagai narasi yang gelap dan berani tentang kisah tiga dara.
Horor sebagai alat kritik
Bagi pembaca karya Intan sebelumnya, pendekatan ini tidak asing. Sejak kumpulan cerpen Sihir Perempuan, yang masuk lima besar Khatulistiwa Literary Award 2005, ia memakai horor dan dongeng untuk membongkar mitos tentang perempuan. Magdalene, seperti dikutip penerbit, menilai horor di tangan Intan bukan sekadar alat menakut-nakuti, melainkan medium kritik untuk mengganggu hal-hal yang selama ini diterima sebagai normal.
Di Night of a Thousand Hells, pendekatan itu diarahkan pada persoalan yang lebih besar: kekerasan politik, ekstremisme, dan tubuh perempuan yang menjadi medan pertarungan berbagai kepentingan. Novelis Argentina Mariana Enriquez menyebutnya kisah tanpa ampun tentang horor politik dan keperempuanan.
Edisi Inggrisnya diterjemahkan Stephen Epstein dan Tiffany Tsao. Penerjemahan ini menghadapi tantangan besar karena harus memindahkan konsep budaya lokal, mitologi, dan atmosfer psikologis yang pekat ke bahasa lain.
Dari Gramedia ke panggung dunia
Versi Indonesianya, Malam Seribu Jahanam, terbit pada 2023 lewat Gramedia Pustaka Utama setebal 362 halaman. Menurut agensi hak ciptanya, novel ini sudah dicetak ulang tiga kali di Indonesia, dan hak terjemahannya terjual ke penerbit di Amerika Serikat, Inggris, Australia, Italia, dan Polandia.
Intan Paramaditha adalah penulis, akademisi, dan aktivis feminis. Ia meraih gelar doktor kajian sinema dari New York University, mengajar di Macquarie University, Australia, dan menjadi Radcliffe Fellow di Harvard untuk 2026–2027. Ia juga turut mendirikan kolektif Sekolah Pemikiran Perempuan.
Catatan untuk pembaca
Novel ini bukan bacaan ringan. Tema terorisme dan kekerasan disajikan tanpa penghalusan, dan strukturnya menuntut kesabaran. Namun bagi pembaca yang ingin memahami bagaimana sastra Indonesia membicarakan agama, politik, dan tubuh perempuan tanpa menggurui, buku ini termasuk yang paling penting dalam beberapa tahun terakhir.
Apa pun hasil pengumuman 18 November nanti, keberadaan novel ini di daftar finalis sudah menempatkan kerja penerjemahan sastra Indonesia dalam perhatian pembaca internasional.
Informasi Buku
- Judul: Night of a Thousand Hells (edisi asli: Malam Seribu Jahanam)
- Penulis: Intan Paramaditha
- Penerjemah: Stephen Epstein dan Tiffany Tsao
- Penerbit edisi Inggris: Europa Editions, Oktober 2026
- Penerbit edisi Indonesia: Gramedia Pustaka Utama, 2023, 362 halaman
Catatan redaksi: ulasan ini disusun berdasarkan keterangan penerbit, pemberitaan, dan tanggapan kritikus yang tercantum di bagian Referensi.




