JAKARTA, KALAWACA.COM — Desa Trunuh, Oktober 1965. Tiga hari setelah suaminya menghilang, Katri ditembak dari jarak dekat. Usianya 18 tahun, dan ia sedang mengandung anak pertama yang berusia tujuh bulan. Ia mengira hidupnya berakhir di titik itu. Ternyata tidak.
Begitulah Katri, novel debut Adeste Adipriyanti terbitan Kepustakaan Populer Gramedia (KPG), membuka kisahnya. Novel ini masuk daftar panjang kategori Novel Kusala Sastra Khatulistiwa (KSK) 2026, bersanding dengan karya Nukila Amal, Ratih Kumala, dan Artie Ahmad.
Bertahan, tetapi untuk siapa?
Menurut keterangan penerbit, Katri selamat dari penembakan itu. Namun, hidupnya tidak kembali. Ia dipindahkan dari satu kamp ke kamp lain, dari satu penjara ke penjara lain. Kegiatan berkeseniannya membuat ia menjadi sasaran sekelompok orang. Keindahan masa remajanya lenyap dalam sekejap.
Gramedia menggambarkan novel ini sebagai kisah perempuan muda yang kehilangan hampir segalanya: suami, kebebasan, hingga rasa aman atas tubuh dan hidupnya sendiri. Pertanyaan yang diajukan sampul belakangnya sederhana tetapi berat: bagi Katri, hidup tidak memberi pilihan selain bertahan, lalu untuk siapa ia bertahan?
Prolog yang langsung menghantam
Adeste tidak memberi pembaca waktu untuk bersiap. Prolognya menggambarkan siang yang biasa. Pukul 11, Katri sedang menuju dapur hendak memasak bakmi rebus, tangannya masih basah karena mencuci sawi. Lalu truk tentara datang, dan rombongan bersenjata masuk ke ruang tamu tanpa mengetuk pintu.
Detail-detail domestik semacam ini adalah kekuatan yang patut dicatat. Kekerasan politik tidak digambarkan dari ruang rapat atau medan tempur, tetapi dari dapur seorang perempuan muda. Pendekatan ini sejalan dengan tradisi novel tentang 1965 yang berpusat pada pengalaman perempuan, seperti Amba karya Laksmi Pamuntjak, yang juga disandingkan Gramedia dalam daftar bacaannya.
Fiksi untuk sejarah yang sunyi
Peristiwa 1965–1966 masih menjadi bagian sejarah Indonesia yang diperdebatkan, baik soal penyebab, jumlah korban, maupun cara negara mengingatnya. Novel seperti Katri tidak menggantikan kerja sejarawan. Yang ia tawarkan adalah sesuatu yang sulit dihadirkan buku sejarah: wajah dan suara seseorang yang mengalami, serta pertanyaan tentang bagaimana seseorang melanjutkan hidup setelah kehilangan segalanya.
Sebagai novel pertama, Katri memikul tema yang berat. Pembaca perlu menilai sendiri apakah eksekusinya sepadan dengan ambisinya. Masuknya novel ini ke daftar panjang KSK 2026, yang hanya memuat karya terbitan pertama sepanjang 2025, menunjukkan bahwa dewan juri menilainya layak diperhitungkan.
Tentang penulis
Adeste Adipriyanti lahir di Jakarta dan menetap di Tangerang. Ia berkarier di dunia media lintas format, dari jurnalis koran harian, majalah gaya hidup, hingga editor media digital. Selain bekerja di media, ia menulis esai dan cerpen. Kumpulan cerpen kolaboratif pertamanya, Little Stories, diterbitkan Gramedia Pustaka Utama. Katri adalah novel perdananya.
Informasi Buku
- Judul: Katri
- Penulis: Adeste Adipriyanti
- Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia, 2025
- Catatan: Daftar Panjang kategori Novel, Kusala Sastra Khatulistiwa 2026
Catatan redaksi: ulasan ini disusun berdasarkan keterangan penerbit, cuplikan prolog yang dipublikasikan penerbit, dan pemberitaan yang tercantum di bagian Referensi.




