Ulasan Buku Ikhtiar yang Tak Benar-Benar: Nukila Amal dan Raja Segala Penundaan

Novel kedua Nukila Amal setelah Cala Ibi memenangi Kusala Sastra Khatulistiwa 2026. Kisah Juna, pengarang yang tak kunjung menulis mahakaryanya, dipuji juri karena polifoninya.

Avatar Redaksi

3 menit baca

Buku Ikhtiar yang Tak Benar-Benar
Buku Ikhtiar yang Tak Benar-Benar

JAKARTA, KALAWACA.COM — Butuh lebih dari dua dekade bagi Nukila Amal untuk menerbitkan novel keduanya. Ironisnya, novel itu bercerita tentang seorang pengarang yang tak kunjung menyelesaikan karyanya. Ikhtiar yang Tak Benar-Benar, terbitan Kepustakaan Populer Gramedia (KPG), kemudian dinobatkan sebagai novel terbaik dalam Kusala Sastra Khatulistiwa (KSK) 2026.

Juna, rajadiraja segala penundaan

Tokoh utamanya, Juna, adalah pengarang yang bercita-cita melahirkan mahakarya. Ia memikirkan kalimat pertama yang harus orisinal dan menentukan seluruh isi buku. Segala hal dilatari pemikiran pelik dan rencana rumit. Niat dan gagasan terus bermunculan, sementara pekerjaan menulisnya tidak juga selesai.

Laman IDWriters menyebut Juna sebagai raja segala raja penundaan. Novel ini juga menghadirkan Kin, pasangan Juna, dan menyoroti cara keduanya berkomunikasi serta merespons apa yang terjadi pada diri mereka.

Di tengah kebuntuan itu, Juna sempat bertanya pada dirinya sendiri apakah tidak angkuh mendesakkan tulisannya kepada dunia. Pertanyaan semacam ini akrab bagi siapa pun yang pernah berkarya: penulis, peneliti, mahasiswa yang menunda skripsi, atau siapa saja yang lumpuh oleh keinginan menghasilkan sesuatu yang sempurna.

Orkestrasi suara

Dewan juri KSK 2026 menilai kekuatan utama novel ini terletak pada kematangan bahasanya dan kemampuan Nukila memberi nada suara berbeda bagi setiap tokoh. Juri Andina Dwifatma menyebut struktur novel ini polifonik: banyak tokoh berbicara tanpa terdengar sama. Ia juga menilai novel ini berhasil mengolah tema domestik menjadi eksplorasi estetik yang berbobot.

Laporan dewan juri, seperti dikutip Gramedia, menyatakan bahwa tema domestik dalam novel ini diolah menjadi kisah yang lembut tanpa kehilangan daya gedor.

Berbeda dari Cala Ibi

Pembaca yang mengenal Nukila dari Cala Ibi (2003) mungkin akan terkejut. Novel pertamanya itu dikenal kaya metafora dan pengandaian, masuk lima besar Khatulistiwa Literary Award, dan diterjemahkan ke beberapa bahasa, termasuk bahasa Inggris dengan judul The Original Dream.

Sejumlah pembaca di Goodreads mencatat bahwa gaya Ikhtiar yang Tak Benar-Benar jauh lebih sederhana dalam diksi. Tanggapan mereka terbelah. Sebagian menilai inilah sisi Nukila yang lebih bebas dan memberontak. Sebagian lain merasa percakapan panjang tokoh-tokohnya melelahkan dan akhir ceritanya hambar.

Perbedaan tanggapan ini wajar untuk novel yang memang bermain dengan kebosanan, penundaan, dan kegagalan. Bentuknya sendiri meniru isinya: sebuah ikhtiar yang tidak selalu bergerak maju.

Tentang penulis

Nukila Amal lahir di Ternate, Maluku Utara, pada 1971. Ia sempat bekerja di bidang perhotelan dan keuangan sebelum menekuni dunia menulis. Selain Cala Ibi, ia menulis kumpulan cerpen Laluba dan buku anak Mirah Mini: Hidupmu Keajaibanmu.

Bagi pembaca yang ingin menikmati sastra Indonesia kontemporer yang reflektif, bukan yang berlari mengejar plot, novel ini menawarkan pengalaman membaca yang jarang. Ia juga menjadi pengingat bahwa menunda tidak selalu berarti malas. Kadang, itu tanda seseorang terlalu serius memikirkan apa yang ingin ia katakan.

Informasi Buku

  • Judul: Ikhtiar yang Tak Benar-Benar
  • Penulis: Nukila Amal
  • Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia, 2025
  • Tebal: 240 halaman
  • ISBN: 978-623-134-433-5
  • Penghargaan: Pemenang kategori Novel, Kusala Sastra Khatulistiwa 2026

Catatan redaksi: ulasan ini disusun berdasarkan keterangan penerbit, laporan dewan juri, pemberitaan, dan tanggapan pembaca yang tercantum di bagian Referensi.

Menemukan kekeliruan? Ajukan koreksi atau hak jawab.