JAKARTA, KALAWACA.COM — Tiga tahun lalu, Godzilla Minus One mencetak sejarah. Film Jepang berbiaya relatif kecil itu memenangi Oscar 2024 untuk Efek Visual Terbaik, piala Oscar pertama dalam lebih dari 70 tahun riwayat Godzilla. Sekuelnya, Godzilla Minus Zero, tayang di bioskop Indonesia sejak 4 November 2026 dengan beban ekspektasi yang tidak ringan.
Hasilnya, menurut ulasan-ulasan awal, adalah film yang lebih besar dan lebih memukau secara visual, tetapi tidak selalu lebih utuh.
Jepang 1949, dua tahun setelah bencana
Takashi Yamazaki kembali menulis dan menyutradarai untuk Toho. Ceritanya berlatar 1949, dua tahun setelah Jepang pascaperang menghadapi Godzilla dalam film pertama. Para pilot dan ilmuwan yang selamat kini berhadapan dengan ancaman baru yang merusak perdamaian yang baru saja mereka perjuangkan. Monster berkepala tiga Ghidorah ikut hadir.
Seperti pendahulunya, film ini memakai monster sebagai cermin bagi trauma kolektif sebuah bangsa yang kalah perang. Premisnya ringkas: perang membuat Jepang menjadi nol, lalu Godzilla menjerumuskannya ke minus.
Pujian untuk tontonan, catatan untuk cerita
Film ini tayang perdana di New York Film Festival pada 26 September 2026. Sejak embargo ulasan dibuka, mayoritas kritikus memberi penilaian positif, meski konsensusnya menyebut film ini belum melampaui Minus One.
Kritikus utama IndieWire, David Ehrlich, termasuk yang paling antusias. Ia menilai sekuel ini lebih baik dari film pertama dalam hampir semua aspek, terutama kepaduan tema dan efek khusus. Katie Rife dari Inverse menyebutnya kelanjutan yang layak dan tontonan blockbuster kelas dunia, tetapi mencatat bahwa unsur manusianya tidak sepadu film pertama. Ia juga menyindir bahwa film ini justru kekurangan Godzilla.
Ulasan /Film memberi nilai 7,5 dari 10. Pengulasnya memuji ambisi dan skala, tetapi menilai sekuel ini mengorbankan keintiman yang membuat film pertama begitu efektif. William Bibbiani dari TheWrap menyebutnya film yang seru dan megah, tetapi terasa lebih konyol.
Penilaian paling keras datang dari Dread Central, yang memberi nilai 3 dari 5. Ulasannya memuji pertarungan monster yang spektakuler dan imajinatif, tetapi mengkritik busur karakter yang berulang, tempo yang lamban, dan sentimentalitas yang berlebihan. Bagi pengulasnya, film ini adalah langkah mundur dari Minus One.
Layak ditonton di layar terbesar
Dari ragam ulasan itu, ada satu titik temu: Godzilla Minus Zero adalah pengalaman sinematik yang paling terasa di layar besar. Kekuatan film ini ada pada skala dan detail visualnya, warisan langsung dari tim yang memenangi Oscar.
Yang masih diperdebatkan adalah hatinya. Minus One dicintai karena menempatkan rasa bersalah seorang pilot kamikaze di pusat cerita, sementara monsternya menjadi perwujudan trauma. Sekuelnya mencoba memperluas cakupan, dan sebagian kritikus menilai perluasan itu membuat fokus emosionalnya memudar.
Bagi penonton Indonesia, film ini menawarkan cara lain melihat Jepang pascaperang: bukan dari buku sejarah, tetapi dari ketakutan dan harapan warganya yang dibungkus dalam kisah monster.
Informasi Film
- Judul: Godzilla Minus Zero
- Penulis dan sutradara: Takashi Yamazaki
- Produksi: Toho
- Pemutaran perdana: New York Film Festival, 26 September 2026
- Tayang di bioskop Indonesia: 4 November 2026
Catatan redaksi: ulasan ini disusun berdasarkan materi resmi dan penilaian kritikus yang tercantum di bagian Referensi.




