Ini Baru Keren, Mahasiswa PPG USI Buat Kebun Sayur dan Pojok Baca Anak Panti di Pematangsiantar

Mahasiswa PPG Calon Guru Universitas Simalungun menutup Projek Kepemimpinan “Membumi Asih, Memintasi Aksi” di Panti Asuhan Yayasan Islamic Centre, Pematangsiantar, setelah sepuluh pertemuan bersama 18 anak asuh.

Avatar Aisyah Tinus Puspa Ningrum

4 menit baca

Keren, mahasiswa PPG USI menanam sayur dan pojok baca untuk anak-anak panti asuhan di Pematangsiantar. Sumber: Dok. khusus
Keren, mahasiswa PPG USI menanam sayur dan pojok baca untuk anak-anak panti asuhan di Pematangsiantar. Sumber: Dok. khusus

PEMATANGSIANTAR, KALAWACA.COM — Delapan belas anak Panti Asuhan Yayasan Islamic Centre di Marihat Baris, Pematangsiantar, Sumatera Utara, kini punya kebun sayur, pojok baca, dan keterampilan membuat gantungan kunci. Semuanya lahir dari sepuluh pertemuan bersama mahasiswa Pendidikan Profesi Guru (PPG) Calon Guru Universitas Simalungun (USI) sepanjang September hingga Oktober 2026.

Rangkaian kegiatan bertajuk “Membumi Asih, Memintasi Aksi” itu ditutup dengan acara perpisahan di panti, Sabtu (17/10/2026). Kelompok 1 PPG Calon Guru Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) USI menjalankannya sebagai tugas mata kuliah Projek Kepemimpinan.

Bagi calon guru, mata kuliah ini menguji kepemimpinan di luar ruang kelas: merancang program bersama mitra, menjalankannya, dan memikirkan apa yang tersisa setelah mahasiswa pergi.

Belajar Memimpin di Luar Kelas

Projek Kepemimpinan adalah mata kuliah berbasis proyek dalam program PPG Calon Guru. Mahasiswa diminta merancang, mengelola, dan menjalankan sebuah inisiatif yang menjawab persoalan nyata di masyarakat. Panduan mata kuliah ini memandang kepemimpinan sebagai kompetensi yang bisa dilatih, bukan bakat bawaan. Lewat proyek, mahasiswa berlatih bekerja sama, berkomunikasi, dan memecahkan masalah.

Kelompok 1 memilih Panti Asuhan Yayasan Islamic Centre di Jalan Asahan No. 22A sebagai mitra. Panti yang berdiri pada 1970 itu kini mengasuh 18 anak dari jenjang SD, SMP, hingga SMA/SMK.

Tema “Membumi Asih, Memintasi Aksi” dipilih untuk menegaskan bahwa kasih sayang perlu diwujudkan dalam tindakan, bukan berhenti di ucapan.

Kebun, Gantungan Kunci, dan Pojok Baca

Mahasiswa menyusun empat program kerja. Pertama, pelatihan menanam dan merawat sayuran. Anak-anak ikut menanam sayur dan pohon buah di halaman panti, lalu belajar merawatnya.

Kedua, program Kreasi Ekspresi. Anak-anak mewarnai, membuat kolase, dan menulis puisi bertema cita-cita. Ketiga, pelatihan membuat gantungan ponsel dan gantungan kunci. Keempat, pembuatan pojok baca di panti untuk mendukung kebiasaan membaca.

Dosen pengampu Projek Kepemimpinan, Irwan L. Hulu, menilai keempat program itu kreatif. Dalam sambutannya pada acara perpisahan, ia berharap kebun sayur, pojok baca, dan keterampilan kerajinan yang sudah diajarkan terus dipakai setelah mahasiswa menyelesaikan proyek. Menurut dia, keterampilan menanam dan membuat kerajinan bisa menjadi bekal untuk usaha kecil.

“Kami Jadi Tahu”

Harapan serupa datang dari anak-anak panti. Dewi, salah seorang anak asuh, mengaku mendapat pengalaman baru selama kegiatan.

“Terima kasih banyak telah meluangkan waktunya, memberikan kami pengalaman, mengajari kami apa yang tidak kami tahu sehingga kami jadi tahu. Mengajari seperti menanam, membuat gantungan kunci, mungkin ke depannya kami bisa membuat usaha kecil-kecilan dengan itu,” kata Dewi.

Fatir, anak asuh lainnya, merasakan suasana panti berubah selama dua bulan kegiatan.

“Datangnya kakak di sini membuat tempat kami jauh lebih hidup dan ceria. Kegiatan yang kita lakukan bersama-sama sangat seru dan tidak membosankan sama sekali. Meskipun waktu kita singkat, terasa sangatlah hangat,” tuturnya.

Pengurus panti, Rizqana Sari, berterima kasih atas ilmu dan wawasan baru yang dibawa mahasiswa. Ia berharap hubungan antara mahasiswa dan panti tetap terjalin setelah proyek berakhir.

“Kakak-kakak di sini sudah memberikan wawasan baru kepada adik-adik kita di sini, memberikan ilmu kepada adik-adik kita di sini. Semoga apa yang kakak berikan kepada adik-adik di sini dibalas Allah berkali-kali lipat,” ujarnya.

Setelah Mahasiswa Pergi

Ketua Projek Kepemimpinan Kelompok 1, Fathan Wardana, menyebut yang dibagikan mahasiswa adalah hal-hal kecil.

“Meski mungkin kami tidak bisa memberikan banyak hal yang besar, hal-hal kecil yang kami bagikan diharapkan dapat menambah wawasan dan kemampuan anak-anak panti,” kata Fathan. Ia juga berterima kasih kepada para donatur yang mendukung kegiatan.

Kini pertanyaannya ada pada keberlanjutan. Kebun sayur perlu disiram dan dirawat. Pojok baca perlu terus diisi buku. Keterampilan membuat kerajinan perlu dipraktikkan agar tidak terlupa. Semua itu akan bergantung pada anak-anak dan pengurus panti setelah mahasiswa kembali ke kampus.

Dewi sudah punya bayangan sendiri. Gantungan kunci yang ia pelajari, katanya, mungkin kelak bisa menjadi usaha kecil-kecilan.

Penulis, Aisyah Tinus Puspa Ningrum, adalah mahasiswa PPG Calon Guru FKIP Universitas Simalungun dan anggota Kelompok 1 Projek Kepemimpinan, koordinator program Kreasi Ekspresi. Seluruh foto: Dok. Kelompok 1 Projek Kepemimpinan PPG Calon Guru USI.

Menemukan kekeliruan? Ajukan koreksi atau hak jawab.