Hanya 3 dari 10 Siswa SD di Maluku Utara Capai Kompetensi Minimum Literasi

Data 2025 menunjukkan sebagian besar siswa di Maluku Utara belum mencapai kompetensi minimum literasi dan numerasi. Persoalan itu dibahas dalam rapat program KREASI di Ternate.

Avatar Redaksi

2 menit baca

Pemandangan Kota Ternate, Maluku Utara
Ilustrasi: Kota Ternate, Maluku Utara, 2010 (foto arsip). Foto: Tom Weinz, U.S. Foreign Service/Wikimedia Commons (domain publik).

TERNATE, KALAWACA.COM — Sebagian besar siswa di Maluku Utara belum mencapai kompetensi minimum literasi dan numerasi. Di jenjang SD, hanya 3 dari 10 siswa yang mencapai kompetensi minimum literasi dan 2 dari 10 untuk numerasi.

Data tahun 2025 itu disampaikan Sekretaris Daerah Provinsi Maluku Utara Syamsuddin Abdul Kadir, yang membacakan sambutan gubernur, saat membuka Pertemuan Dewan Pengarah Provinsi (Provincial Steering Committee Meeting) Program Kolaborasi untuk Edukasi Anak Indonesia (KREASI) 2026 di Ternate, Rabu (4/11/2026), seperti dilaporkan Istana FM.

Gambaran per jenjang

  • SD: literasi 3 dari 10 siswa, numerasi 2 dari 10 siswa.
  • SMP: literasi 4 dari 10 siswa, numerasi 3 dari 10 siswa.
  • SMA: literasi dan numerasi masing-masing 4 dari 10 siswa.
  • SMK: 3 dari 10 siswa.

Menurut Syamsuddin, peningkatan akses pendidikan belum menjamin mutu pembelajaran. Ia menyoroti distribusi guru yang belum merata antara perkotaan dan daerah terpencil, serta data administrasi pendidikan yang tidak sesuai kondisi lapangan sehingga sejumlah sekolah kekurangan guru.

“Peningkatan literasi dan numerasi bukan hanya urusan Dinas Pendidikan, melainkan menjadi tanggung jawab semua pihak,” ujarnya.

Kebijakan berbasis data

Kepala Bappeda Maluku Utara Muhammad Sarmin S. Adam menekankan perumusan kebijakan pendidikan harus berbasis data. Berdasarkan data BPS, Indeks Pembangunan Manusia Maluku Utara naik menjadi 72,52 pada 2025 dari 71,82 tahun sebelumnya. Rata-rata lama sekolah tercatat 8,84 tahun di Halmahera Utara dan 7,91 tahun di Pulau Morotai.

Sekretaris Badan Kebijakan Pendidikan Dasar dan Menengah Kemendikdasmen Muhammad Yusro meminta pemerintah daerah memasukkan praktik baik KREASI ke perencanaan dan penganggaran daerah agar berlanjut setelah proyek berakhir.

Tentang KREASI

KREASI merupakan kerja sama pemerintah Indonesia dan Australia melalui Global Partnership for Education (GPE), dilaksanakan Save the Children bersama Konsorsium Mitra Pendidikan Indonesia. Di Maluku Utara, program ini berfokus di Halmahera Utara dan Pulau Morotai.

Referensi

  1. Rifal, “Ketimpangan Guru dan Rendahnya Literasi Jadi Persoalan Pendidikan Maluku Utara“, Istana FM, 4 November 2026.

Menemukan kekeliruan? Ajukan koreksi atau hak jawab.