JAKARTA, KALAWACA.COM — Menteri Agama Nasaruddin Umar meminta tokoh lintas agama memaknai ulang konsep toleransi. Menurut dia, toleransi tidak cukup dipahami sebagai kesediaan menerima perbedaan, tetapi perlu diarahkan pada pencarian titik temu antarumat beragama.
Ajakan itu disampaikan Menag dalam pertemuan dengan sejumlah tokoh lintas agama di Jakarta, seperti tercantum dalam keterangannya pada Selasa (3/11/2026). Pesan itu muncul ketika indeks kerukunan umat beragama nasional berada di titik tertinggi sejak pertama kali diukur, tetapi salah satu dimensinya, kebersamaan, masih jauh tertinggal.
Dari “menerima” ke “mencari persamaan”
Nasaruddin menilai toleransi kerap dipersepsikan secara pasif. “Kalau toleransi itu, kesannya, image-nya, kita seolah-olah ada unsur dipaksa untuk memberikan suatu pengakuan yang tidak sesuai dengan hati nurani kita,” ujarnya.
Karena itu, ia mengusulkan agar ruang pergesekan akibat perbedaan dipersempit dengan memperluas ruang perjumpaan. Menurut Menag, pengajaran agama yang terlalu menekankan perbedaan perlu diubah menuju pemahaman bahwa ajaran moral, etika, dan kisah spiritual antaragama memiliki banyak titik temu. Gagasan ini pada dasarnya menyangkut literasi keagamaan: kemampuan umat memahami ajaran sendiri sekaligus mengenal ajaran sesamanya secara utuh.
Kemenag juga mendorong konsolidasi ikatan cendekiawan lintas agama, mulai dari cendekiawan Muslim, Katolik, Kristen, Buddha, Hindu, hingga Khonghucu, untuk merumuskan strategi kebangsaan. Tantangan yang disebut antara lain perkembangan kecerdasan buatan dan persoalan moral generasi muda.
“Dengan kolaborasi lintas iman yang kuat, Indonesia optimistis mampu berdiri kokoh sebagai teladan kerukunan beragama bagi dunia,” kata Nasaruddin.
Tinggi di toleransi, rendah di kebersamaan
Ajakan Menag memiliki pijakan data. Survei Indeks Kerukunan Umat Beragama (IKUB) yang digelar Kemenag bersama Pusat Pendidikan dan Pelayanan Masyarakat Universitas Indonesia (P3M UI) mencatat skor nasional 2025 sebesar 77,89, naik dari 76,47 pada 2024. Angka ini tertinggi dalam 11 tahun pengukuran sejak 2015.
Indeks itu disusun dari tiga dimensi, dan skornya timpang:
- Toleransi: 88,82
- Kesetaraan: 79,35
- Kebersamaan: 65,49
Selisih lebih dari 23 poin antara toleransi dan kebersamaan memberi gambaran sederhana. Sebagian besar warga sudah bersedia hidup berdampingan dengan pemeluk agama lain, tetapi kegiatan bersama lintas umat dalam keseharian belum setinggi sikap tersebut. Pemerintah menargetkan skor IKUB mencapai 78,25 pada 2029.
Kerukunan di tingkat daerah
Upaya memperluas ruang perjumpaan juga berlangsung di daerah. Di Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, FKUB setempat menggelar sarasehan dan diskusi kelompok terpumpun bersama insan pers di Gereja Katolik Paroki Santo Yohanes, Rabu (4/11/2026).
Ketua FKUB Ciamis Sumadi menyebut kepercayaan, kesetaraan, dan kerja sama sebagai tiga fondasi merawat kerukunan. Ia meminta wartawan menyebarkan pesan damai melalui pemberitaan yang berimbang, karena pers ikut membentuk cara pandang masyarakat. Ciamis kini juga mengikuti penilaian King Hamad Award for Coexistence and Tolerance dari Bahrain dan telah melewati tahap ketujuh.
Namun, data indeks yang tinggi tidak berarti persoalan di lapangan selesai. Pada Oktober 2026, rencana pembangunan Gereja Kristen Protestan Simalungun (GKPS) di Desa Cikopo, Kabupaten Purwakarta, ditolak sekelompok warga, meskipun Kantor Wilayah Kementerian HAM Jawa Barat menyatakan persyaratan pendiriannya telah ditempuh. Di Sukoharjo, Jawa Tengah, kasus pembakaran warung nonhalal berujung polemik penggeledahan pesantren.
Rangkaian Hari Toleransi
Pernyataan Menag menjadi bagian dari rangkaian The Wonder of Harmony 2026 bertema “Merawat Toleransi, Menguatkan Negeri” yang digelar Kemenag sepanjang November hingga Desember untuk menyambut Hari Toleransi Internasional pada 16 November. Agenda yang terbuka bagi masyarakat antara lain Harmony Fun Walk di Yogyakarta pada 15 November, Surabaya pada 29 November, dan Jakarta pada 6 Desember 2026.
Di Bogor, semangat serupa sebelumnya terlihat ketika ratusan warga lintas agama mengikuti jalan sehat BASOLIA di Balai Kota Bogor. Tantangannya kini adalah menjadikan perjumpaan semacam itu kebiasaan sehari-hari, bukan hanya acara tahunan.




